Filed under: Books
Seandainya
seandainya aku ini malam
aku mau bergantian dengan siang
agar kuintip wajahmu ketika terang
seandainya aku ini siang
aku mau bergantian dengan malam
agar aku mimpimu ketika kelam.
seandainya aku ini samudera
aku mau bergantian dengan angkasa
agar kubawa kau mengelilingi semesta
seandainya aku ini angkasa
aku mau bergantian dengan samudera
agar kau tahu betapa dalamnya ia
bila menjadi aku yang mencintaimu.
Kamilah Cinta
gambar kami pada kilat yang dibawa gemuruh
duduk kami pada kayu yang dibawa bumi
bercerita kami yang didengar angin dirintik hujan
berangan kami untuk sebuah rumah dipenuhi sakinah
seperti sebuah replika kisah yang tak lekang Romeo dan Juliet
terbang kami pada pucuk-pucuk tertinggi duniawi
melintasi yang dituliskan hingga jadilah kerinduan
dengan seluruh cucuran cinta sepuluh bulan kami
dan lupalah kami pada mendiang khianat hati
kamilah cinta jelmaan Adam dan Hawa
Kau Tanpa Kita
ketika aku menulismu
aku juga melihatmu
dan kau tuntun jari-jariku
merasakan indah hatimu
sekarang kau tubuh yang penuh luka,
kau telah menjadi anugerah
seluas tanganmu menggenggam
sehangat hatimu merangkul
seperti diselamatkanNya melalui mu
sekarang kau jiwa yang tak bertuan,
aku ini pecundang
jadilah kau kini tanpa kita.
Sang Tiara,
air mata jatuh dalam irama derasnya hujan
telah bercampur menusuk angan-angan mengoyak,
menghancurkan, mencabik-cabik, hancur tak karuan seperti tiba-tiba,
dan memang tiba-tiba kemana pepohonan?
dimana keramaian?
aku telanjang, hilang langkah, hilang kata, hilang dan begitu saja
seperti darah kehilangan desah,
apa itu gumpalan pucat?
berkerut, dingin tergeletak pada sebuah jalan
tapi lihat !!
bukan mahkota, tiaranya
bukan anggun tiap langkahnya
atau ramah tiap butiran senyumnya
hanya langkah satu persatu itu
hanya iring-iringan harapnya
hanya untai-untaian do’anya
ketika lirih-lirih sesalnya
dan dekap harapan seorang pencinta
merintih tertatih mencoba menggapai lagi
tapi, telah hilang tautannya
karena… Sang Tiara, tetaplah tegar !
luka dan khianat ini akan selesai
saat ucap takbir pertama untukku.
Aku Ini
aku ini bukan keterlanjuran
yang bersedia telanjang atas nama cinta
aku ini cuma seorang angkasa
dengan derita-derita yang tercipta.
aku ini bukan dongeng
yang sanggup diinjak-injak atas nama cinta
aku ini cuma seorang angkasa
yang sedang menunggang waktu
dengan seempuk-empuk pelana cinta.
Melihat Ke Dalam Jiwa
di depan kaca jiwa kugantungkan janji
di sudut bumi kutorehkan darah
akan kuraih mataharimu dengan jariku
dan kupersembahkan hanya untukmu
jika saat itu tiba pandanglah mata hatimu
lihatlah jauh ke dalam jiwamu
pandangi aku dan tanyakan salahmu
atau haruskah kita belajar dari setiap pecahan yang ada?
Sad Countenance
tangisku tak berarti itu merubah niatku
butiran-butiran yang tersisa telah menerangkan semua yang tersesat
menemukan semua jawaban dari detak hati yang belum terpenuhi
jangan pikir duniaku hanya mimpi
jangan anggap duniaku hanya hiasan jiwa
aku berdiri menatap mega alam bukan untuk menggantung harapan
aku tetap menjerit perih bukan untuk bersedih
aku malu bukan karena bersimba maaf
kuhanya salahkan apa yang telah tak kudapatkan
kulihat langit-langit di kamarku
bertanya-tanya pada sudut hatiku
mencari apa yang sebenarnya telah hilang dari aku
hanyalah gambaran-gambaran masa lalu yang tersisa resah,
tak ada arti hingga aku ragu
kuikuti jalan ke mana hatiku menuntun
ingin kulihat sampai di mana ia berhenti.
Don’t Give Me Way
ada senyuman yang membuatku tahu bahwa hidup itu penuh makna
ada tatapan mata yang damaikan rindu yang tak bertepi
juga helai rambut yang membuat jiwaku teriak di setiap waktu di kepalaku, di setiap rongga tubuhku
yang ingin kulakukan adalah memberikan yang terbaik yang aku miliki
yang terbaik yang bisa aku lakukan
sempat hinggap di benakku bahwa aku bisa lari kemanapun aku mau
bahwa aku bisa pergi sejauh yang kumampu
tapi kuyakin bahwa aku tidak akan bisa bersembunyi dari perasaanku
perasaan yang benar-benar menghantuiku
seperti keajaiban yang datang kepadaku
kehangatan yang tidak pernah ada hentinya
dan cahaya yang mampu membunuh perasaanku.
Cinta Yang Tak Inginkan Aku
kucoba katakan selamat tinggal
tapi aku tersedak aku tersungkur
aku sebenarnya punya cinta
cinta yang tak inginkan aku
aku tak tahan dan aku marah,
bahkan murka
sekarang ia bebas
pasti ia tersenyum.
Memento
tak ingin aku kenang waktu kau berlalu pergi jauh dari kehidupanku
tak ingin aku mengingat saat kau berjalan meninggalkanku
atau caramu yang membuatku terjebak dalam keperihan
bahkan sudah pudar pula dalam ingatanku
bagaimana sudut wajahmu atau bagaimana lekuk tubuhmu
kuhanya tahu kini kau telah tumbuh jauh dan berbeda
yang kuingat hanyalah bagaimana cara kita berciuman
bagaimana kita berpelukan
dan bagaimana kau memberikan kasih dan sayangmu hanya untukku
yang kurasakan kini hanyalah bagaimana hangatnya saat itu.
The Sense
kusandarkan tangan dinginku pada dinding
dinding rapuh yang menemaniku
hilangkan semua tentang kemarin
menyadari aku hadir untuk menjadi
di mana aku tidaklah lagi aku selamanya
masa lalu tidaklah nyata
ketika aku ada garis-garis itulah yang salah
sehingga aku terperangkap dan tinggal
sekarang aku hanya berharap aku tidak akan merasakan
di mana ada sesuatu yang terlewatkan.
Terserah
berlamunkan mimpi yang terbungkus imajinasi
digenggam seikat harapan tak bertubuh
seperti melihat apa yang tak tertangkap
tak akan terungkap jika aku berdiam
tak akan nyata dengan hari-hari seperti ini
sepertinya harus sendiri,
membusa kemudian lenyap
tak apa-apa jika harus tak berarti,
karena pasti akan ada tempat tersendiri
walau itu terbuang.
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>