angkasapoetra-area


d’ twelves originaL Love poemz [by Me!]
January 7, 2008, 6:59 am
Filed under: Books

Seandainya

seandainya aku ini malam

aku mau bergantian dengan siang

agar kuintip wajahmu ketika terang

seandainya aku ini siang

aku mau bergantian dengan malam

agar aku mimpimu ketika kelam.

seandainya aku ini samudera

aku mau bergantian dengan angkasa

agar kubawa kau mengelilingi semesta

seandainya aku ini angkasa

aku mau bergantian dengan samudera

agar kau tahu betapa dalamnya ia

bila menjadi aku yang mencintaimu.

Kamilah Cinta

gambar kami pada kilat yang dibawa gemuruh

duduk kami pada kayu yang dibawa bumi

bercerita kami yang didengar angin dirintik hujan

berangan kami untuk sebuah rumah dipenuhi sakinah

seperti sebuah replika kisah yang tak lekang Romeo dan Juliet

terbang kami pada pucuk-pucuk tertinggi duniawi

melintasi yang dituliskan hingga jadilah kerinduan

dengan seluruh cucuran cinta sepuluh bulan kami

dan lupalah kami pada mendiang khianat hati

kamilah cinta jelmaan Adam dan Hawa

Kau Tanpa Kita

ketika aku menulismu

aku juga melihatmu

dan kau tuntun jari-jariku

merasakan indah hatimu

sekarang kau tubuh yang penuh luka,

kau telah menjadi anugerah

seluas tanganmu menggenggam

sehangat hatimu merangkul

seperti diselamatkanNya melalui mu

sekarang kau jiwa yang tak bertuan,

aku ini pecundang

jadilah kau kini tanpa kita.

Sang Tiara,

air mata jatuh dalam irama derasnya hujan

telah bercampur menusuk angan-angan mengoyak,

menghancurkan, mencabik-cabik, hancur tak karuan seperti tiba-tiba,

dan memang tiba-tiba kemana pepohonan?

dimana keramaian?

aku telanjang, hilang langkah, hilang kata, hilang dan begitu saja

seperti darah kehilangan desah,

apa itu gumpalan pucat?

berkerut, dingin tergeletak pada sebuah jalan

tapi lihat !!

bukan mahkota, tiaranya

bukan anggun tiap langkahnya

atau ramah tiap butiran senyumnya

hanya langkah satu persatu itu

hanya iring-iringan harapnya

hanya untai-untaian do’anya

ketika lirih-lirih sesalnya

dan dekap harapan seorang pencinta

merintih tertatih mencoba menggapai lagi

tapi, telah hilang tautannya

karena… Sang Tiara, tetaplah tegar !

luka dan khianat ini akan selesai

saat ucap takbir pertama untukku.

Aku Ini

aku ini bukan keterlanjuran

yang bersedia telanjang atas nama cinta

aku ini cuma seorang angkasa

dengan derita-derita yang tercipta.

aku ini bukan dongeng

yang sanggup diinjak-injak atas nama cinta

aku ini cuma seorang angkasa

yang sedang menunggang waktu

dengan seempuk-empuk pelana cinta.

Melihat Ke Dalam Jiwa

di depan kaca jiwa kugantungkan janji

di sudut bumi kutorehkan darah

akan kuraih mataharimu dengan jariku

dan kupersembahkan hanya untukmu

jika saat itu tiba pandanglah mata hatimu

lihatlah jauh ke dalam jiwamu

pandangi aku dan tanyakan salahmu

atau haruskah kita belajar dari setiap pecahan yang ada?

Sad Countenance

tangisku tak berarti itu merubah niatku

butiran-butiran yang tersisa telah menerangkan semua yang tersesat

menemukan semua jawaban dari detak hati yang belum terpenuhi

jangan pikir duniaku hanya mimpi

jangan anggap duniaku hanya hiasan jiwa

aku berdiri menatap mega alam bukan untuk menggantung harapan

aku tetap menjerit perih bukan untuk bersedih

aku malu bukan karena bersimba maaf

kuhanya salahkan apa yang telah tak kudapatkan

kulihat langit-langit di kamarku

bertanya-tanya pada sudut hatiku

mencari apa yang sebenarnya telah hilang dari aku

hanyalah gambaran-gambaran masa lalu yang tersisa resah,

tak ada arti hingga aku ragu

kuikuti jalan ke mana hatiku menuntun

ingin kulihat sampai di mana ia berhenti.

Don’t Give Me Way

ada senyuman yang membuatku tahu bahwa hidup itu penuh makna

ada tatapan mata yang damaikan rindu yang tak bertepi

juga helai rambut yang membuat jiwaku teriak di setiap waktu di kepalaku, di setiap rongga tubuhku

yang ingin kulakukan adalah memberikan yang terbaik yang aku miliki

yang terbaik yang bisa aku lakukan

sempat hinggap di benakku bahwa aku bisa lari kemanapun aku mau

bahwa aku bisa pergi sejauh yang kumampu

tapi kuyakin bahwa aku tidak akan bisa bersembunyi dari perasaanku

perasaan yang benar-benar menghantuiku

seperti keajaiban yang datang kepadaku

kehangatan yang tidak pernah ada hentinya

dan cahaya yang mampu membunuh perasaanku.

Cinta Yang Tak Inginkan Aku

kucoba katakan selamat tinggal

tapi aku tersedak aku tersungkur

aku sebenarnya punya cinta

cinta yang tak inginkan aku

aku tak tahan dan aku marah,

bahkan murka

sekarang ia bebas

pasti ia tersenyum.

Memento

tak ingin aku kenang waktu kau berlalu pergi jauh dari kehidupanku

tak ingin aku mengingat saat kau berjalan meninggalkanku

atau caramu yang membuatku terjebak dalam keperihan

bahkan sudah pudar pula dalam ingatanku

bagaimana sudut wajahmu atau bagaimana lekuk tubuhmu

kuhanya tahu kini kau telah tumbuh jauh dan berbeda

yang kuingat hanyalah bagaimana cara kita berciuman

bagaimana kita berpelukan

dan bagaimana kau memberikan kasih dan sayangmu hanya untukku

yang kurasakan kini hanyalah bagaimana hangatnya saat itu.

The Sense

kusandarkan tangan dinginku pada dinding

dinding rapuh yang menemaniku

hilangkan semua tentang kemarin

menyadari aku hadir untuk menjadi

di mana aku tidaklah lagi aku selamanya

masa lalu tidaklah nyata

ketika aku ada garis-garis itulah yang salah

sehingga aku terperangkap dan tinggal

sekarang aku hanya berharap aku tidak akan merasakan

di mana ada sesuatu yang terlewatkan.

Terserah

berlamunkan mimpi yang terbungkus imajinasi

digenggam seikat harapan tak bertubuh

seperti melihat apa yang tak tertangkap

tak akan terungkap jika aku berdiam

tak akan nyata dengan hari-hari seperti ini

sepertinya harus sendiri,

membusa kemudian lenyap

tak apa-apa jika harus tak berarti,

karena pasti akan ada tempat tersendiri

walau itu terbuang.




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>