d’ twelves originaL Love poemz [by Me!]
January 7, 2008, 6:59 am
Filed under:
Books
Seandainya
seandainya aku ini malam
aku mau bergantian dengan siang
agar kuintip wajahmu ketika terang
seandainya aku ini siang
aku mau bergantian dengan malam
agar aku mimpimu ketika kelam.
seandainya aku ini samudera
aku mau bergantian dengan angkasa
agar kubawa kau mengelilingi semesta
seandainya aku ini angkasa
aku mau bergantian dengan samudera
agar kau tahu betapa dalamnya ia
bila menjadi aku yang mencintaimu.
Kamilah Cinta
gambar kami pada kilat yang dibawa gemuruh
duduk kami pada kayu yang dibawa bumi
bercerita kami yang didengar angin dirintik hujan
berangan kami untuk sebuah rumah dipenuhi sakinah
seperti sebuah replika kisah yang tak lekang Romeo dan Juliet
terbang kami pada pucuk-pucuk tertinggi duniawi
melintasi yang dituliskan hingga jadilah kerinduan
dengan seluruh cucuran cinta sepuluh bulan kami
dan lupalah kami pada mendiang khianat hati
kamilah cinta jelmaan Adam dan Hawa
Kau Tanpa Kita
ketika aku menulismu
aku juga melihatmu
dan kau tuntun jari-jariku
merasakan indah hatimu
sekarang kau tubuh yang penuh luka,
kau telah menjadi anugerah
seluas tanganmu menggenggam
sehangat hatimu merangkul
seperti diselamatkanNya melalui mu
sekarang kau jiwa yang tak bertuan,
aku ini pecundang
jadilah kau kini tanpa kita.
Sang Tiara,
air mata jatuh dalam irama derasnya hujan
telah bercampur menusuk angan-angan mengoyak,
menghancurkan, mencabik-cabik, hancur tak karuan seperti tiba-tiba,
dan memang tiba-tiba kemana pepohonan?
dimana keramaian?
aku telanjang, hilang langkah, hilang kata, hilang dan begitu saja
seperti darah kehilangan desah,
apa itu gumpalan pucat?
berkerut, dingin tergeletak pada sebuah jalan
tapi lihat !!
bukan mahkota, tiaranya
bukan anggun tiap langkahnya
atau ramah tiap butiran senyumnya
hanya langkah satu persatu itu
hanya iring-iringan harapnya
hanya untai-untaian do’anya
ketika lirih-lirih sesalnya
dan dekap harapan seorang pencinta
merintih tertatih mencoba menggapai lagi
tapi, telah hilang tautannya
karena… Sang Tiara, tetaplah tegar !
luka dan khianat ini akan selesai
saat ucap takbir pertama untukku.
Aku Ini
aku ini bukan keterlanjuran
yang bersedia telanjang atas nama cinta
aku ini cuma seorang angkasa
dengan derita-derita yang tercipta.
aku ini bukan dongeng
yang sanggup diinjak-injak atas nama cinta
aku ini cuma seorang angkasa
yang sedang menunggang waktu
dengan seempuk-empuk pelana cinta.
Melihat Ke Dalam Jiwa
di depan kaca jiwa kugantungkan janji
di sudut bumi kutorehkan darah
akan kuraih mataharimu dengan jariku
dan kupersembahkan hanya untukmu
jika saat itu tiba pandanglah mata hatimu
lihatlah jauh ke dalam jiwamu
pandangi aku dan tanyakan salahmu
atau haruskah kita belajar dari setiap pecahan yang ada?
Sad Countenance
tangisku tak berarti itu merubah niatku
butiran-butiran yang tersisa telah menerangkan semua yang tersesat
menemukan semua jawaban dari detak hati yang belum terpenuhi
jangan pikir duniaku hanya mimpi
jangan anggap duniaku hanya hiasan jiwa
aku berdiri menatap mega alam bukan untuk menggantung harapan
aku tetap menjerit perih bukan untuk bersedih
aku malu bukan karena bersimba maaf
kuhanya salahkan apa yang telah tak kudapatkan
kulihat langit-langit di kamarku
bertanya-tanya pada sudut hatiku
mencari apa yang sebenarnya telah hilang dari aku
hanyalah gambaran-gambaran masa lalu yang tersisa resah,
tak ada arti hingga aku ragu
kuikuti jalan ke mana hatiku menuntun
ingin kulihat sampai di mana ia berhenti.
Don’t Give Me Way
ada senyuman yang membuatku tahu bahwa hidup itu penuh makna
ada tatapan mata yang damaikan rindu yang tak bertepi
juga helai rambut yang membuat jiwaku teriak di setiap waktu di kepalaku, di setiap rongga tubuhku
yang ingin kulakukan adalah memberikan yang terbaik yang aku miliki
yang terbaik yang bisa aku lakukan
sempat hinggap di benakku bahwa aku bisa lari kemanapun aku mau
bahwa aku bisa pergi sejauh yang kumampu
tapi kuyakin bahwa aku tidak akan bisa bersembunyi dari perasaanku
perasaan yang benar-benar menghantuiku
seperti keajaiban yang datang kepadaku
kehangatan yang tidak pernah ada hentinya
dan cahaya yang mampu membunuh perasaanku.
Cinta Yang Tak Inginkan Aku
kucoba katakan selamat tinggal
tapi aku tersedak aku tersungkur
aku sebenarnya punya cinta
cinta yang tak inginkan aku
aku tak tahan dan aku marah,
bahkan murka
sekarang ia bebas
pasti ia tersenyum.
Memento
tak ingin aku kenang waktu kau berlalu pergi jauh dari kehidupanku
tak ingin aku mengingat saat kau berjalan meninggalkanku
atau caramu yang membuatku terjebak dalam keperihan
bahkan sudah pudar pula dalam ingatanku
bagaimana sudut wajahmu atau bagaimana lekuk tubuhmu
kuhanya tahu kini kau telah tumbuh jauh dan berbeda
yang kuingat hanyalah bagaimana cara kita berciuman
bagaimana kita berpelukan
dan bagaimana kau memberikan kasih dan sayangmu hanya untukku
yang kurasakan kini hanyalah bagaimana hangatnya saat itu.
The Sense
kusandarkan tangan dinginku pada dinding
dinding rapuh yang menemaniku
hilangkan semua tentang kemarin
menyadari aku hadir untuk menjadi
di mana aku tidaklah lagi aku selamanya
masa lalu tidaklah nyata
ketika aku ada garis-garis itulah yang salah
sehingga aku terperangkap dan tinggal
sekarang aku hanya berharap aku tidak akan merasakan
di mana ada sesuatu yang terlewatkan.
Terserah
berlamunkan mimpi yang terbungkus imajinasi
digenggam seikat harapan tak bertubuh
seperti melihat apa yang tak tertangkap
tak akan terungkap jika aku berdiam
tak akan nyata dengan hari-hari seperti ini
sepertinya harus sendiri,
membusa kemudian lenyap
tak apa-apa jika harus tak berarti,
karena pasti akan ada tempat tersendiri
walau itu terbuang.
Ketika Cinta Menuntun [by Me!]
Gue udah sering banget bilang ama bonyok kalo gue ngga’ mau yang namanya dijodohi. Emangnya gue ngga’ laku apa? Emang gue ngga’ kren-kren banget, apalagi gue nyadar kalo bokap dan nyokap gue itu siapa. Beliau-beliau itu hanyalah pegawai negeri biasa yang hidup dari gaji minim yang dikasih pemerintah dan itupun hanya sebulan sekali. Belum lagi dituntut untuk membiayai hidup adik gue, gue dan diri mereka sendiri.
Dengan harga-harga yang semakin melunjak tinggi ini, ngga’ berlebihan rasanya kalo gue menyebut diri gue dari keluarga yang sangat super sederhana sekali. Gue dan adik gue emang bisa makan tiga kali sehari, pagi, siang dan malam. Tapi, itu jauh banget dari yang namanya empat sehat lima sempurna. Wah jauh panggang dari api pokoknya. Tapi untuk hobi gue yang satu itu, chating di warnet, gue selalu usahain buat cari sendiri.
Soal request by bonyok, gue tahu bokap dan nyokap ngga’ salah dengan permintaan yang selalu itu dan itu, permintaan agar gue buru-buru nikah. Siapa sih yang ngga’ mau nikah? Cuma masalahnya siapa yang mau nikah dengan cowok kayak gue? Cowok yang tampangnya pas-pasan dan ngga’ punya apa-apa.
Dua hari yang lalu gue kenalan ama cewek dekat rumah, dia anak pindahan dari Jakarta. Katanya ikut bokapnya yang pindah tugas di sini, di Bank Swasta di kota ini. Yang gue denger dari tetangga-tetangga selain kerja di bank bokapnya juga pengusaha yang sangat sukses. Kalo sekedar cantik yang gue bilang untuk dia rasanya gue kurang puas, karena dia memang benar-benar cantik, sangat super cantik sekali. Bahkan kalo ada yang lebih di atas pujian itu gue ngga’ keberatan untuk ngungkapinnya. Dia itu memang cantik banget. Bahkan lebih cantik dari foto-foto cewek yang gue kenal lewat chating di internet.
Kalo gue ngga’ salah ingat namanya Angie, soalnya gue keburu nervest untuk mengingat namanya dengan lengkap. Kalo ditanya apa dia cewek idaman gue atau ngga’ gue pastilah ngejawab kalo dia itu cewek gue banget. Gue ngga’ ngerasa ada kekurangan dari dia. Dia cantik, ramah, udah kuliah meskipun baru semester perdana, beda umurnya dengan gue lebih kurang tiga tahunan dan dia anak orang kaya.
Gimana ngga’ kaya kalo atap rumahnya aja kelihatan dari rumah gue yang jaraknya sekitar seratus meter dari rumah dia, ditambah lagi garasinya yang segede rumah gue itu dipenuhi dengan mobil-mobil mewah. Rasanya ngga’ ada alasan bagi gue untuk ngga’ ngedeketin dia karena siapa tahu aja dia juga suka gue.
Yang jadi masalah adalah gue dan dia bagaikan kerak bumi dengan langit ke tujuh. Dia berpendidikan, sedangkan gue? Dia terawat dengan baik, sedangkan gue? Jangan-jangan gaji bokap dan nyokap gue selama dua bulan kalo dikumpulin ngga’ akan cukup untuk beli parfum yang dia pake’.
Semenjak acara kenalan gue yang ngga’ sengaja di warung dekat rumah dua hari yang lalu itu, gue jadi kepikiran dengan permintaan bonyok agar gue buru-buru nikah. Sebenarnya gue tanpa mereka mintapun juga pengen buru-buru nikah. Andaikan gue dapat kerjaan di tempat idaman gue, di Pertamina, pasti sekarang juga gue lamar si Angie, soal dia mau atau ngga’ masalah belakangan. Yang pasti gue pede aja lantaran udah ada pegangan hidup buat ngasih makan anak orang.
Selama ini bukannya gue ngga’ pernah usaha buat nyari kerja. Gue udah keliling-keliling ngebawa surat lamaran dan ijazah gue, tapi ngga’ ada satu tempat pun yang mau nerima gue, ya tentu aja dengan alasan klasik kalo mereka sedang ngga’ ngebutuhin karyawan baru. Emang sih, zaman sekarang nyari kerja ngga’ gampang. Kalo skill yang gue punya standar ama orang kebanyakan, yah jelas gue bakalan kalah saing. Karena zaman sekarang ini, diakui atau ngga’ diakui sedikit banyak relasi dan uang juga berperan penting untuk meniti karir.
Lama gue berpikir, akhirnya gue mutusin untuk nemui Angie secepatnya dan mengatakan kalo gue suka dia, kalo gue pengen dia jadi istri gue. Bukannya apa-apa, gue cuma takut kalo dia keburu dilamar orang lain. Sebenarnya hal itu ngga’ masalah mengingat perbedaan yang kami miliki. Hanya aja, gue ngga’ mau menyesal karena ngga’ pernah mengatakannya. Setelah dipikir-pikir lagi ngga’ apa-apa juga soal gue yang belum punya kerjaan karena kalo nungguin gue dapat kerjaan kayaknya kambing udah berkukuk pun gue bakalan belum dapat juga.
So, lebih baik mengambil resiko 95 % ditolak mentah-mentah daripada harus mati dengan rasa penasaran. Menurut gue itu lebih baik. Lagian siapa tahu dia juga suka gue, dia terima gue, toh soal kerjaan atau harta kan ngga’ masalah bagi dia. Siapa tahu gue malah dikasih kerjaan. Matrealistis sedikit kan ngga’ apa-apa. Hari gini siapa sih yang ngga’ matre? Kalo begitu besok malam gue akan main ke rumahnya dan mengatakan mengenai keinginan gue itu.
Dan malam ini, malam yang udah gue janjiin ama diri gue sendiri untuk nemui Angie dan mengatakan keinginan gue itu, setelah mengumpulkan 50 % rasa pede, 40 % keberanian, 5 % speak-speak yang udah gue siapin dan sisanya 5 % untuk kalo-kalo ada keberuntungan yang datang ke gue, gue pergi dari rumah tepat jam tujuh teng-teng.
Sebelum ke rumahnya gue mampir dulu ke warung kecil dekat rumah. Rencananya gue mau beli permen biar ntar pas ngomong wangian, ya paling ngga’ Angie nya ngga’ keganggu nafas gue.
Tanpa ragu-ragu gue melangkah dari rumah. Dengan siulan yang banyak fals nya daripada merdunya, akhirnya gue sampe juga di depan rumah si Angie. Mudah-mudahan dianya ada di rumah, karena kan biasanya anak orang kaya seperti dia pada jam-jam segitu ngga’ ada di rumah. Ya, pasti masih sibuk dengan segala macam aktivitas yang beragam mulai dari les vokal sampe hang out bareng temen-temen.
So, this is the time to push the bel.
Ngga’ heran lagi kalo yang keluar buat nemui gue pertama kali adalah satpam yang bekerja di rumahnya. Lumayan kekar untuk ukuran satpam di kota ini. Tanpa basa-basi lagi gue langsung nanyain satpamnya apakah Angie ada di rumah dan apakah gue bisa ketemu dengan dia sekarang juga. Dengan keramahan yang dimiliki satpam itu gue dipersilahkan menunggu sebentar di dekat pos penjagaan sementara dia menelfon ke dalam untuk ngasih tahu majikannya, Angie, atau siapapun yang ada di rumah yang seperti istana itu kalo ada yang ingin menemui Angie.
Ngga’ lama berselang, Angie pun keluar dari rumah menuju pos penjagaan, menuju ke arah gue. Yang artinya Angie malam ini ngga’ kemana-mana, dia ada dirumah dan mau bertemu dengan gue. Astaga, meskipun dia hanya mengenakan piama, iya piama yang berwarna pink itu, dia kelihatan sangat cantik bahkan anggun. Dan tiba-tiba jantung gue berdegup kencang, entah kenapa. Antara nervest, minder, senang bercampur jadi satu. Menjadi satu seperti angin yang berhembus semilir dibalut dinginnya udara malam ini.
“Hi Angie”, begitulah gue memulai percakapan singkat di pos penjagaan sebelum akhirnya dia mengundang gue masuk ke dalam rumahnya dan menikmati secangkir teh hangat di ruang tamunya.
Sudah hampir setengah jam gue menghabiskan waktu bersama Angie dan ngga’ satu katapun terucap mengenai maksud yang membawa gue menemui Angie. Gue berpikir mungkin sekarang waktunya belum tepat karena gue takut ngerusak suasana yang indah ini, seindah matahari pagi tersenyum. Tapi kalo ngga’ sekarang kapan lagi? Benar, kalo ngga’ sekarang kapan lagi?
Seiring hitungan mundur dari angka lima yang gue ucapin di dalam hati, Angie pun segera mengetahui maksud hati gue, keinginan gue, keingininan yang membawa gue datang untuk menemuinya malam ini. Dan dia terperangah sesaat, cukup terperangah untuk cewek seanggun dia.
Semenit segera berlalu, dua menit berlalu, tiga menit berlalu hingga lima menit berlalu semenjak gue mengatakan keinginan gue yang di luar akal sehat itu.
Dia masih terperangah.
Sekarang gentian giliran gue yang bengong ngelihat sikap dia, karena pada menit ke enam menurut waktu di jam tangan gue, dia bergegas mengambil hape nya yang super slim itu. Jangan-jangan dia mau ngeminta satpamnya yang kekar itu buat ngusirin gue atau jangan-jangan gue mau dilempar pake’ hape. Gawat!.
Wuihh…, lega juga mengetahui kalo gue salah duga, karena ternyata dia hanya ingin menelfon. Meskipun dia berdiri agak jauh dari tempat kami duduk, gue bisa ngelihat kalo raut wajahnya menjadi kelihatan serius saat ia menelfon. Bahkan Lebih serius dibandingin dengan Pak Presiden saat menyampaikan pidato kenegaraan.
Tapi itu ngga’ lama karena sekarang sepertinya dia udah kembali tersenyum seperti semula, tetap tersenyum dengan sambil menggenggam hape dan berjalan ke arah gue. Kira-kira ada apa ya? Kira-kira jawaban apa ya yang akan gue terima? Apakah penolakan atau keajaiban? Entahlah, saat ini hanya dia yang tahu. Yang jelas, inilah pertama kalinya gue ngerasain yang namanya dag dig dug. Dan ini benar-benar aneh.
“Gini…” itulah kata pertama yang diucapkan Angie sebelum dia mulai ngejelasin satu persatu mengenai jawaban atas pertanyaan dan permintaan gue tadi. Karena Angie ngga’ langsung memberikan gue jawabannya melainkan malah balik ngasih gue pertanyaan-pertanyaan.
Pertanyaan pertama dimulai dari apakah gue sanggup ngelakuin apa aja untuk ngebuktiin ke dia kalo gue bener-bener serius dengan dia, kalo gue bener-bener cinta dia sampe-sampe gue minta dia buat jadi istri gue. Yang tentunya gue sanggupin saat itu juga.
Lalu diapun ngejelasin ke gue kalo emang gue sanggup dia mau gue ngelakuin satu hal. Bagi gue sih, gue rela ngelakuin apa aja untuk ngebuktiin ke dia kalo gue serius. Selama itu bukan memetik bulan dan menyeberangi samudera, dengan kata lain selama itu masih masuk akal.
Angie Angie…, ternyata permintaannya emang masuk akal, tapi tetap aja ngga’ masuk akal untuk zaman seperti sekarang ini dan ngga’ pernah gue duga sama sekali. Kenapa gue bilang ngga’ masuk akal? Itu karena dia minta gue untuk menjadi pengantar koran di kota ini selama dia masih kuliah. Yang artinya kurang lebih tiga sampe empat tahun. Lagian masa’ gue yang sarjana gini jadi pengantar koran? Kan gengsi.
Untuk ngejawab pertanyaan yang satu ini gue emang butuh waktu beberapa saat walaupun akhirnya gue sanggupin juga. Selain itu dia juga nanyain ke gue satu hal yang harus gue jawab jika tugas gue telah selesai sebagai pengantar koran. Benar-benar sebuah pertanyaan yang cool menurut gue. Pertanyaan itu adalah, kenapa orang-orang menjual rokok dan korek api secara terpisah, kenapa ngga’ sekalian aja rokok dijual sekaligus dengan korek apinya? Tapi demi cewek yang secantik dan sekaya dia, apa sih yang ngga’?
Dia lebih banyak tersenyum setelah gue nyanggupin syarat-syarat yang diajuin ke gue. Dan jawaban yang gue dapat hanyalah janji, dia ngejanjiin ke gue kalo seandainya gue sanggup jadi pengantar koran di kota ini tanpa satupun complain dari para pelanggan dia bersedia untuk jadi istri gue dan selama gue jadi pengantar koran dia bersedia menunggu gue untuk ngga’ nikah terlebih dahulu.
Bayangkan, mengantar koran ke para pelanggan tanpa satu complain pun selama lebih kurang tiga sampe empat tahun rasanya ngga’ masuk akal ama sekali. Ditambah lagi pertanyaan yang gue ngga’ tahu jawabannya sama sekali itu. Rasanya ini seperti penolakan secara halus oleh Angie, sehalus kulit putihnya.
Dengan membawa oleh-oleh syarat-syarat yang diajuin Angie, gue pun pulang ke rumah.
Malam telah berganti pagi, dan pagi ini, di mana kabut masih bercengkerama dengan matahari pagi gue pun bersiap-siap. Seperti yang udah gue janjiin semalam, pagi ini adalah pagi pertama gue sebagai pengantar koran, pengantar koran yang akan berkeliling mengitari kota dengan mengayuh sepeda butut adik gue. Pagi yang sekaligus hari dimana gue harus ngebuang jauh-jauh kata gengsi dalam kehidupan gue untuk selama-lamanya. Pagi dimana keputusasaan gue bercampur dengan semangat demi seorang cewek, demi seorang Angie. Pagi di mana gue harus pergi ke salah satu kantor koran harian untuk mengambil koran-koran dan sekaligus daftar namanya. Pagi yang ngga’ pernah gue impi-impikan sebelumnya. Dan pagi yang pasti ngga’ akan gue lupain seumur hidup.
Bahkan hingga pagi ini gue pun belum bisa ngelupain pagi itu, pagi yang setelah tiga tahun berlalu semenjak pagi pertama dan terakhir gue sebagai pengantar koran itu, pagi di mana gue dan Angie harus buru-buru ngebawa Tania ke posyandu di dekat rumah kami untuk diimunisasi. Iya, Tania. Tania anak perempuan kami yang lucu, sehat dan pintar. Dan pagi di mana gue bersyukur dengan Yang Maha Cinta seperti yang gue lakuin di setiap pagi-pagi sebelumnya. Bahkan hingga pagi ini, gue masih ingat gimana persisnya pagi pertama gue sebagai penjual koran itu gue lalui.
Waktu itu, ternyata Angie telah menunggu di rumah salah satu pelanggan koran yang akan gue anterin korannya, dan dia yang ngebukain pintu buat gue walaupun seharusnya gue bisa nyelipin koran itu di bawah pintu. Karena ternyata, salah satu diantara banyak daftar nama pelanggan korang yang gue bawa, salah satunya adalah temannya.
Malam itu, ketika gue nyangkain dia mau ngusirin gue ataupun ngelempar gue pake’ hape, ternyata yang dia telfon adalah salah satu teman bokapnya yang punya perusahaan penerbit salah satu koran harian di kota ini.
Gue juga masih ingat dengan jelas gimana kebengongan-kebengongan di muka gue yang ngebuat Angie tersenyum manis, sangat manis. Ngga’ perlu nungguin begitu lama untuk mengetahui ada apa sebenarnya. Karena Angie mulai ngejelasin ke gue siapa dia sebenarnya dan apa yang ngebuat dia dan bokapnya pindah ke kota ini, ke kota di mana gue tinggal, lahir dan dibesarkan.
Dia ngejelasin ke gue kalo sebenarnya gue udah lama kenal dia sebelumnya bahkan gue sempat baik dan care ke dia sampe-sampe dia jatuh cinta dengan gue dan ngga’ peduli siapapun dan seperti apa gue.
Hanya aja waktu itu nama dia bukan Angie melainkan Ani. Ani yang gue kenal lewat chating di internet enam bulan sebelum gue dan Angie berkenalan secara nyata di dekat rumah gue. Ani yang waktu itu sebuah tokoh yang sengaja Angie buat untuk mencari cinta sejatinya, cinta yang ngga’ peduli apakah dia cantik atau ngga’, cinta yang ngga’ peduli apakah dia kaya atau ngga’, cinta yang hanya peduli mengenai hati semata, dan cinta yang hanya peduli mengenai arti kebaikan dan kasih sayang yang tulus tanpa ada timbal-balik di belakangnya. Ani yang waktu itu gue kasih semangat terus menerus untuk tetap hidup meskipun dia udah ngga’ punya apa-apa lagi dan hidup sebatang kara. Ani yang hampir diperkosa oleh majikan pemilik warnet di tempat dia bekerja. Ani yang bukan siapa-siapa gue. Ani yang jatuh cinta dengan ketulusan gue sebagai seorang cowok. Dan itulah yang ngebuat Ani yang sekarang ternyata adalah Angie yang pindah ke kota ini. Kota dimana dia yakin bisa ngedapetin cinta sejatinya.
Dia juga ngejelasin kenapa gue hanya sehari sebagai pengantar koran dan ngga’ sampe dia selesai kuliah. Karena dia pikir sehari atau bertahun-tahun pun sama. Yang dia hanya perlu tahu, apakah gue masih cowok yang sama dengan yang dia kenal lewat chating di internet dulu. Cowok yang tanpa pamrih memberikan perhatian dengan tulus untuk cewek yang ngga’ punya apa-apa dan ngga’ dikenal.
Yang ngga’ dia jelasin hanyalah jawaban dari pertanyaan mengenai rokok itu, pertanyaan kenapa orang-orang menjual rokok dan korek api secara terpisah, pertanyaan kenapa ngga’ sekalian aja rokok dijual sekaligus dengan korek apinya? Hanya itu.
Tapi entah kenapa pagi itu tiba-tiba gue dihadapan dia yang sedang berdiri tersenyum manis dan menatap gue dengan dalam mampu ngejawabnya. Karena tiba-tiba aja gue ngejawab, gue ngejawab bahwa itu karena hidup ngga’ selalu sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Kita hanya harus bersyukur dengan apa yang telah kita punya dan kita raih. Lagipula korek api tersedia dan bisa didapat di mana aja, bahkan bisa didapat dengan ibu-ibu rumah tangga yang tidak ngerokok sekalipun. Jawaban itu juga yang ngebuat Angie ngemeluk gue erat-erat dan berkata kalo dia mau menjadi istri gue.
Kalo begitu cinta sebenarnya bukanlah tinggal dipikiran kita melainkan tinggal jauh di dalam hati dan ia yang menuntun kita pabila ia menilai kita pantas.
~
Shadow of Her [by Me!]
January 2, 2008, 8:52 am
Filed under:
Books
little bit of my complaints and i feel so scared
it’s so hard to convince me about what kind of this feelin’ ?
always fall to the stumped street, but i believe this is real
just one thing that somebody should know, soon
i woke up with a nice dream that i haven’t before
one month ago …
it’s happen and itsn’t real
it’s look i see the heaven in her ocean eyes
this sound isn’t too good for me
although i often hear the reverberation in my mind
then i don’t see the time again
suddenly she have live inside of me
foresight of all, everything
and everything become different
there is no sense i can show, there is no chance to prove
just lying in my way, in my own way
day by day passed, no questions with the answer
amazing me, there are so lot of questions since that day
and i so scared by the shadow.