angkasapoetra-area


Kuasa Cinta [by me]
December 28, 2007, 9:53 am
Filed under: Books

Di rumah kami, dimana gue dan bokap tinggal selama ini semenjak ditinggal nyokap yang udah pergi duluan pindah ke surga beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan sepeda motor, dimana gue dan bokap mempunyai kenangan-kenangan indah sewaktu masih bersama-sama nyokap, tepat satu jam lagi dari sekarang kami akan makan siang bersama.

Tapi tidak seperti biasanya yang hanya ada gue dan bokap. Karena makan siang kali ini gue dan bokap akan ditemani Theola. Bokap pun udah  janji ke gue kalo siang ini dia akan pulang kantor lebih awal. Karena seperti janji kami kemarin kalo siang hari ini ketika jam makan siang, gue janji untuk ngenalin cewek yang gue cintai dan mencintai gue ke bokap. Iya, gue udah berjanji ama bokap untuk ngenalin calon menantunya, untuk ngenalin Theola yang udah gue ceritain semenjak satu minggu yang lalu.

Semenjak ditinggal nyokap gue mau ngga’ mau harus belajar masak. Gue ngga’ bisa lagi enak-enakan kayak dulu yang kalo mau pergi atau pulang dari kampus tinggal duduk manis di meja makan. Karena gue nyadar kalo gue udah ngga’ punya nyokap lagi dan karena bokap ngga’ akan mungkin ngajakin gue makan di luar terus-terusan. Bokap bilang kami harus mulai belajar berhemat. Salah satunya dengan ngga’ makan di luar setiap hari. Lagian apa susahnya sih belajar masak. Dan jadilah gue koki di rumah kami yang sederhana ini.

Tapi untuk makan siang kali ini gue sengaja ngga’ masak sendiri melainkan delivery masakan Jepang. Gue sengaja pesan masakan Jepang karena baik bokap ataupun Theola suka banget dengan masakan Jepang meskipun sebenarnya gue sendiri ngga’ terlalu suka.

Makanan yang udah gue pesen akhirnya datang juga tepat lima belas menit sebelum pukul satu menurut jam dinding di rumah kami, itu artinya semua persiapan sudah beres. Tinggal menunggu kedatangan bokap dan Theola. Karena memang makan siang kali ini special untuk mereka berdua. Untuk sang calon menantu dan sang calon mertua.

Sebenarnya acara makan siang ini udah lama gue rencanain tapi baru sekarang bisa diwujudin. Mengingat beberapa minggu ini gue dan Theola lagi sibuk-sibuknya semesteran. Belum lagi bokap yang sedang ada masalah intern di kantor. Bokap ngga’ pernah cerita masalahnya apa dan gue pun ngga’ pernah nanyain. Karena gue pikir kalo bokap kepengen berbagi masalahnya dengan gue dia pasti cerita. Bokap orangnya emang gitu. Gue bisa ngertiin kok. Ntar kalo masalahnya udah kelar pasti juga bisa ketahuan dari raut wajahnya yang masih baby face itu. Buktinya pas semalem gue omongin mengenai rencana ini ke bokap, bokap ngedukung gue kok. Katanya sih ngga’ ada salahnya juga cepat-cepat ngerasaian gimana rasanya jadi kakek. Maklum, kan gue anak satu-satunya. Kalo ngga’ dari gue ya dari siapa lagi bokap bakal dapat cucu?

Dan tepat lima menit sebelum acara makan siang dimulai bokap pun datang. Tadinya sih gue sempat was-was juga. Kan ngga’ enak ama Theola kalo yang diundang duluan datang daripada tuan rumahnya. Sebelum ganti baju dan duduk di meja makan bokap sempet nanyain ke gue sekali lagi siapa nama calon menantunya itu. Untungnya bokap jujur kalo dia lupa. Kan apa jadinya ntar kalo dia sampe salah manggil nama.

“Ayah, namanya Theola, Theola, ingat ya Yah”.

Setelah sedikit ngobrol bareng bokap akhirnya pintu rumah kami pun diketuk juga. Gue yakin banget kalo pasti Theola yang sedang berada di balik pintu itu. Kalo Theola lah yang mengetuk pintu barusan. Gagang pintu pun gue tarik dan dugaan gue bener. Wah, kira-kira apa ya yang sedang dipikirin bokap sekarang?

Gue pikir ngga’ ada salahnya kalo gue dan Theola sedikit berpelukan di depan bokap. Karena gue pikir itu bisa sedikit ngebantu Theola untuk ngilangin nervest nya.

Setelah itu Theola pun gue kenalin ke bokap. Dan seperti yang gue duga sebelumnya, bokap pun menerima uluran salam perkenalan dari Theola dengan ramah. Acara perkenalan itu ngga’ berlangsung lama. Karena makan siang udah menanti kami bertiga di meja makan.

Sungguh makan siang yang menyenangkan. Gue senang bisa ngelihat Theola dan bokap terlihat akrab. Kami bertiga terlihat akrab. Gue cuma berpikir, andaikan saat ini nyokap sedang bersama-sama kami. Tapi gue yakin, nyokap pasti sedang bersama kami. Karena bagi gue nyokap selalu ada dan tinggal di dalam hati gue yang terdalam, sedikit lebih dalam dibandingkan posisi Theola di hati gue.

Setengah jam lamanya kami bertiga berada di meja makan.

Di meja makan kami bercerita banyak hal. Theola dengan setelan kameja hitam dan celana jeansnya kelihatan santai nyeritain ke bokap gimana gue dan dia bisa kenalan, pokoknya mulai dari perkenalan gue dan Theola empat bulan yang lalu di kampus kami sampe gimana caranya gue dan Theola bisa jadian seperti sekarang ini.

Kalo dipikir-pikir usia hubungan gue dan Theola bagi kebanyakan orang emang masih belia, baru jalan 3 bulan. Tapi bagi gue 3 bulan itu udah cukup buat ngelanjutin ke hubungan yang lebih serius. Apalagi Theola lah cinta pertama gue dan dialah pacar pertama gue. Begitupun Theola, dia juga berpendapat kalo kami ngga’ perlu nunggu lama-lama buat menuju ke hubungan yang lebih serius. Ngga’ perlu nunggu lama-lama buat kami untuk segera menikah. Karena dia pun begitu mencintai gue.

Lihatlah Theola, dia benar-benar tahu gimana caranya ngebuat gue jatuh cinta. Ngga’ perlu nunggu dia bilang sayang ama gue, ngga’ perlu nunggu dia gecup bibir gue, ngga’ perlu nunggu dia memeluk tubuh gue untuk tahu gimana rasanya dicintai dan mencintai. Hanya dengan seyuman di bibirnya, itu udah cukup buat gue ngelakuin apa aja untuk bisa memiliki dan menjaga cintanya buat selama-lamanya.

Gue benar-benar ngga’ tahu gimana jadinya seandainya gue kehilangan dia. Dia memang dari keluarga broken home yang hanya kenal nyokapnya dan ngga’ pernah tahu seperti apa rupa bokapnya, yang ngga’ pernah ngerasain gimana rasanya kasih sayang dari seorang bokap, yang ditinggal mati nyokapnya semenjak masih duduk di bangku smp, yang harus berjuang dengan tangannya sendiri untuk tetap hidup di dunia yang kejam ini dan yang seluruh hidupnya hampir dilalui dengan tempaan kasih sayang alam, yang benar-benar tahu gimana caranya melalui masalah.

Tapi bagi gue dia adalah bidadari surga yang dikirimkam mereka untuk gue, dia adalah sepuluh tingkatnya di atas anugerah terindah dan terbaik, dia adalah segala-galanya ungkapan cinta.

Seminggu udah berlalu semenjak makan siang bersama hari itu dan sekarang ketika fajar menyebar emas-emasnya hingga menjelajahi celah-celah ilalang yang masih diselimuti embun paginya, inilah pertama kalinya gue ngelihat bokap duduk termenung di meja makan kami dengan secangkir kopi di hadapannya.

Bukan lamunannya yang mengusik kemudian mengukir beberapa pertanyaan secepat kilat di rongga-rongga tempat gue berimajinasi selama ini, bukan pula karena fajar yang masih terkantuk menggantung tanggung di sebelah timur itu yang menjejali kanvas dengan lukisan-lukisan abstrak di benak gue, tetapi secangkir kopi itu.

Karena semenjak nyokap pergi pindah ke surga dan meninggalkan kami beberapa tahun yang lalu bokap ngga’ pernah lagi membeli kopi apalagi meneguknya seperti pagi ini.

Dengan ngga’ bermaksud untuk membuyarkan lamunan bokap gue pun ngedeketin bokap dan duduk bersamanya. Dengan sedikit basa-basi antara seorang anak dan ayahnya kemudian bokap menceritakan ke gue apa sebenarnya yang sedang merasuki pikirannya sehingga kopi yang begitu pekat itu diteguknya sebegitu pagi.

Apa yang mengganggu pikiran bokap sempat menerjang gue seperti ombak-ombak yang menampar karang dengan garangnya. Karena bokap ngeminta gue untuk berkenalan dengan anak perempuan teman sekantornya dan kalo bisa menikahinya dengan segera mungkin.

Apa maksud semua ini sebenarnya? Bukankah bokap juga menyukai Theola seperti layaknya seorang ayah dan anak? Lantas mengapa bokap menghianati gue dan Theola seperti ini?

“Maaf Ayah, tapi aku ngga’ bisa, aku sangat mencintai Theola.” Yang kemudian menjadi kalimat terakhir gue sebelum akhirnya mandi karena hari ini waktu terakhir bagi gue untuk ngumpulin tugas akhir salah satu mata kuliah.

Siangnya setelah mengumpulkan tugas di kampus, Theola dengan khawatirnya menyerang gue dengan pertanyaan-pertanyaan cemas seorang cewek. Menyulap kegundahan gue untuk segera berbagi dengannya. Ya wajar saja, karena ngga’ perlu seorang Theola untuk menerka seperti apa perasaan gue setelah mendengar permintaan bokap tadi pagi.

Setelah mendengar cerita gue Theola kemudian menitikkan air mata perlahan-lahan di pipinya yang ranum itu. Ia hanya berkata bahwa hidup ini ngga’ pernah adil baginya. Hanya itu. Dan bagi gue, setelah tadi pagi, mungkin hidup ini seperti nasi yang gue makan setiap hari, yang setelah gue kunyah dan telan kemudian dicerna untuk kemudian dikeluarkan lagi menjadi taik.

Memang semalem gue sempet ngedenger bokap menelfon temannya dari dalam kamarnya dan bukan dari telfon rumah kami seperti biasanya. Hanya aja gue ngga’ tahu apa yang mereka bicarakan dan siapa yang diajaknya bicara dengan suara yang sepelan angin sepoi-sepoi. Gue jadi yakin sekarang, kalo sebenarnya bokap pasti mendiskusikan rencananya dengan teman sekantornya seperti yang dia bicarakan pada paginya.

Dua tahun, semenjak pagi di mana bokap meneguk secangkir kopi pertamanya itu setelah sempat berhenti karena kematian nyokap, telah kami berempat jalani di rumah kami yang sederhana ini, walaupun setahun sebelumnya kami tetap bertiga, gue, Theola dan bokap. Karena waktu itu gue dan Theola belum dikarunia Gatha, anak pertama kami ini, dan bokap belum menjadi kakek karena belum punya cucu seperti setahun barusan ini.

Gue masih ingat ketika bokap meluntur, seperti lukisan di kanvas yang terkena guyuran hujan yang paling deras atas permintaan sepihaknya untuk berkenalan dan menikahkan gue dengan anak perempuan teman sekantornya seperti yang dia bilang, saat gue menghujaminya dengan pembuktian-pembuktian gila-gilaan kepadanya untuk menunjukkan bahwa gue bener-bener membutuhkan Theola dan cintanya dalam hidup gue.

Mulai dari gue menunjukan ke bokap tepat di depan mata kepalanya waktu gue menyayat-nyayat lengan kiri gue dengan pisau dapur yang akhirnya harus dijahit untuk menghentikan darahnya yang menyembur kencang seperti deretan kuda-kuda pacu di arena lomba saat adu cepat, sampe gue yang ngga’ makan-makan selama beberapa hari setelah atraksi berdarah gue yang mengakibatkan gue kekurangan dan kehilangan banyak darah. Dan diiringi nyanyian-nyanyian histeris selama beberapa hari di rumah kami itu dari lara seorang pencinta yang menyebabkan kebisuan melanda pita suara Theola selama beberapa hari berikutnya yang membuat bokap jadi ikut terhanyut dalam kesungguhan gue untuk memiliki dan dimiliki Theola.

Yang akhirnya ngebuat bokap menikahkan kami dengan acara pernikahan yang paling akbar baginya walaupun gue tahu itu adalah pernikahan paling sederhana yang gue tahu dibandingkan acara-acara resepsi pernikahan yang pernah gue datangi sebelum-sebelumnya.

Dua tahun hidup bersama Theola sangatlah menyenangkan, seperti hari-hari yang penuh warna dan kegembiraan yang tiada hentinya di hati yang sempat merintih tertentang ini.

Theola pun tahu bahwa tidak sia-sia rupanya apa yang gue lakukan, kami lakukan, untuk mempersatukan cinta yang ngga’ dapat digenggam bahkan oleh dunia ini sekalipun.

Tanpa perlu harus mendengar langsung dari mulutnya gue tahu kalo dia pun merasakan hal yang sama seperti yang gue rasain.

Lihat aja tatapan matanya yang seperti samurai tertajam di dunia yang diasah dengan cinta saat kami saling menatap. Atau sentuhan-sentuhan lembut jemarinya disaat mulai merayap perlahan-lahan dari pinggul menaiki hingga ke leher, dan dekapannya yang seperti perpaduan api unggun dan es krim yang hangat tetapi sejuk dan manis yang membawa gue terhanyut begitu dalam dengan cintanya.

Bahkan di suatu hari dalam dua tahun itu, Theola pernah meletakkan  setangkai mawar putih dan selembar kertas berisikan sebuah puisi yang diletakkanya di ranjang tempat kami tidur.

Bagi gue yang perlu Theola ,bokap dan bahkan siapapun tahu hanyalah kekuatan cinta gue yang ada dan ada karena Theola.

Dan mereka ngga’ perlu tahu kalo sebenarnya gue tahu apa yang mereka tahu dan mengira gue ngga’ tahu selama ini. Bahwa sebenarnya gue tahu apa alasan bokap menjodohkan gue dengan anak perempuan teman sekantornya itu. Bahwa sebenarnya gue tahu, walaupun beberapa hari sedikit terlambat sebelum hari pernikahan gue dan Theola, kalo sebenarnya malam itu bokap ternyata bukanlah menelfon teman sekantornya untuk membicarakan rencanannya untuk ngenalin gue ke anak perempuan temannya itu dan menikahkan gue sesegera mungkin melainkan menelfon dan berbicara dengan Theola.

Berbicara kepada Theola dan memintanya untuk menghentikan hubungannya dengan gue. Dengan alasan yang sangat logika karena bokap ngga’ mau kalo anaknya sampe menikah dengan orang yang pernah dibayarnya beberapa tahun yang lalu untuk ‘tidur’ bersamanya. Kalo bokap ngga’ mau anaknya menikah dengan orang yang pernah menjadi kupu-kupu malam.

Meskipun bagi gue Theola bukanlah kupu-kupu malam, ngga’ sama sekali. Sungguh… coba saja baca puisinya yang diletakan di ranjang tempat kami tidur ini :

kuasa cinta

Yang pernah telanjang memeluk panas

Yang pernah berguling dinginnya kelam

Kini telah dewasa ranum berjuntai

Ialah anggur yang dikasihi alam,

Yang pernah menapaki terjalnya karam

Yang pernah berbasuh hitamnya dunia

Kini mengalir tenang dengan wibawa

Ialah hujan yang disayangi alam,

Yang pernah terpuruk jatuh menghampa

Yang pernah menyangkal kehendak Sang Langit

Kini mengendarai waktu dengan suka cita

Ialah aku yang kau selamatkan dengan cinta.

~




No Comments so far
Leave a comment



Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>