Filed under: Books
Kalo dipikir-pikir gue ini kurang apa sebagai cowok. Badan atletis, tampang cool, mobil kren, rumah gede, depositopun juga ada di setiap bank di kota ini. Lagian siapa yang ngga’ kenal gue di kota ini? Seorang excecutive muda tetapi udah memimpin dan punya dua belas perusahaan walaupun dapat dari warisan bokap. Mulai daru perusahaan air mineral sampe perusahaan pakaian khusus wanita. Trus kenapa sampe sekarang gue belum punya cewek juga? Kenapa ngga’ ada satupun cewek yang mau jadi istri gue? Jangankan istri, pacar aja ngga’ ada sampe sekarang.
Kalo dibilang gue gay, rasanya ngga’ mungkin. Kenapa ngga’ mungkin? Karena koleksi vcd dan dvd bf gue banyak, lagian gue yakin kalo gue jadi ereksi setiap ngelihat bintang-bintang cewek di film-film bf yang gue koleksi itu beraksi. Lantas, kenapa sampe sekarang gue masih jomblo juga? Apa karena warisan cap play boy yang diwarisin kakak gue yang udah beberapa tahun ini menetap diluar negeri? Jadinya cewek-cewek pada ngerasa mikir buat dekat dengan gue lantaran takut dimainin? Tapi, masa iya? Lima tahun yang lalu sih ngga’ masalah dengan kesendirian gue yang tanpa cewek ini, tapi sekarang, bulan depan ini usia gue udah genap 23 tahun.
Belakangan ini seluruh karyawan mapun karyawati di salah satu perusahaan gue mulai ribut-ribut. Mereka berpikiran sepertinya perusahaan akan terkena masalah. Sebenarnya bukan masalah besar menurut gue. Ini hanya masalah yang akan didapat secara tak langsung dari dampak adanya rancangan undang-undang baru di negara gue yang tercinta ini, yang katanya akan mengatur mengenai pornografi dan pornoaksi.
Ya, bagaimana tidak. Perusahaan gue yang satu ini sudah sejak lama memproduksi baju bikini. Baju yang memperlihatkan aurat-aurat yang terlarang apalagi untuk diperlihatkan bagi konsumsi umum kalo seandainya rancangan undang-undang itu disahkan.
Yang mereka ributkan bukan mengenai batasan antara pornografi dan pornoaksi yang tidak jelas batasannya itu, yang mereka ributkan adalah bagaimana nasib mereka nanti seandainya rancangan itu menjadi undang-undang. Apakah mereka akan di PHK? Tapi itu ngga’ masalah bagi gue karena apa susahnya sih banting setir? Dan gue juga ngga’ akan tahu apa yang sedang diributkan oleh karyawan dan karyawati gue ini kalo ngga’ dibilangin ama sekretaris gue. Wajarlah, sebagai sekretaris dia ngerasa wajib melaporkan apa-apa yang terjadi ke gue mengenai perusahaan, ke pimpinannya.
Sekretaris gue yang satu itu sangat loyal, udah hampir lima tahun dia bekerja di perusahaan ini, tanpa sedikitpun mengeluh. Apalagi menuntut untuk kenaikan gaji. Dari yang gue lihat dia orangnya sangat low profile, apa adanya, dia benar-benar tipe cewek yang cocok untuk dijadikan istri. Ah, kalo begitu kenapa ngga’ gue tanyain aja ke dia, Ke Tika. Siapa tahu dia nerima gue buat jadi suaminya. Tidak, jangan sekarang. Karena kelihatannya banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Kalo begitu nanti sore gue panggil Tikanya ke ruangan gue. Sekalian gue mikirin sesuatu dulu buat nanti sore dan nanyain kakak gue gimana pendapatnya soal yang satu ini. Lagian sekarang ini sudah waktunya Lunch. Kalo lunch di Singapura keburu ngga’ ya waktunya? Bosen ah, gimana kalo sesekali gue lunch di kantin bawah di tempat di mana Tika biasanya makan. Hitung-hitung membaur bersama para karyawan-karyawan.
Sekarang udah pukul setengah empat sore, udah waktunya gue panggil Tika ke ruangan gue. Baru aja gue telfon, Tikanya udah datang ke hadapan gue dan seperti biasanya dia bertanya kalo-kalo ada yang bisa dia bantu. Tapi, kali ini beda dengan biasanya karena gue langsung mempersilahkan dia duduk di depan meja gue. Gue tahu kalo dia sekarang ini penuh rasa penasaran ada apa sebenarnya ini? Tanpa basa-basi lagi, gue mengutarakan niat gue ke dia. Dan dia pun menerimanya. Oh iya, dia juga bilang. Selama ini alasan dia bekerja di sini selain dia ngerasa cocok dengan pekerjaannya dia juga ingin merhatiin gue dengan cara-cara yang dia bisa dan tampak wajar sebagai seorang sekretaris. Hanya aja gue ngga’ terlalu menyadarinya sampe dia yang memberitahu.
Dua hari telah gue lewati dengan perasaan senang, hanya saja aneh, kenapa selama ini gue ngga’ nyadar ya kalo sebenarnya ada cewek yang memendam perasaan suka ke gue? Apalagi cewek itu sekretaris di salah satu perusahaan gue sendiri. Mungkin gue terlalu banyak ngurusin bisnis sampe-sampe gue terlalu lelah untuk ngurusin siapa yang akan jadi pendamping hidup gue.
Wow, yang jelas gue senang banget. Permintaan gue diterima Tika dengan senang hati. Rencananya dua minggu lagi kami berdua akan menikah, di Paris. Karena baik bonyoknya dia ataupun gue ngga’ ada masalah sama sekali. They’ve deal. Terutama bonyok gue, karena kedua-duanya udah kepengen banget menimang cucu. Ya, setelah sekian lama mereka merintis bisnis dari nol sampe jadi seperti sekarang ini, wajarlah kalo mereka di hari tuanya ingin bersantai menghabiskan waktu dengan cucu-cucu mereka kelak.
Hari ini, seperti yang direncanakan sebelumnya kami berdua, gue dan Tika, pun akhirnya menikah di Paris, di salah satu hotel ternama tentunya. Semua kebahagian rasanya kami miliki. Bahkan, orang-orang terdekat gue dan semua orang-orang yang hadir di sini ikut merasa bahagia. Termasuk Kevin, kakak gue. Hari ini rasanya adalah hari yang paling ngebahagiain bagi gue. Hidup gue serasa lengkaplah sudah. Dan akan bertambah semakin lengkap lagi kalo gue dan Tika bisa memberikan bonyok cucu. Ah, ngga’ bisa gue bayangin gimana jadinya jika saat itu tiba. Hari ini, gue ngerasa ngelihat senyuman yang paling indah dari bonyok gue yang ngga’ pernah gue lihat sebelumnya. Bahkan, senyuman hari ini ngga’ seindah ketika gue di wisuda saat menyelesaikan kuliah gue, tidak seindah ketika gue memenangkan tender-tender miliaran rupiah buat perusahaan.
Pagi ini, pagi-pagi sekali, gue udah bangun untuk mandi dan sarapan. Sarapan yang sangat gue nanti-nantiin. Sarapan yang dibuat oleh tangan Tika sendiri, yang selain cekatan dalam bekerja dia juga sangat pintar memasak. Meskipun cekatan dalam bekerja sudah hampir satu bulan lebih ini dia gue berhentiin sebagai sekretaris gue. Masa’ iya gue tega ngelihat istri gue banting tulang nyari duit? Kan ngga’ mungkin. Gue bangun pagi-pagi gini karena pagi ini gue dan Tika rencananya mau pergi ke praktek dokter yang ada di rumah sakit didekat rumah kami, untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Karena semalem Tika kelihatan sangat ngga’ enak badan, ngga’ seperti sebulan sebelumnya. Ngga’ satu haripun seperti sebulan sebelumnya. Dia terlalu banyak muntah. Di antara kekhawatiran yang melanda gue, gue juga sedikit berbahagia. Karena jangan-jangan Tika hamil, iya mungkin Tika Hamil. Karena itulah semalem kami sepakat untuk pergi ke dokter pagi ini. Siapa tahu sebentar lagi gue akan menjadi seorang ayah, ayah dari anak-anak gue sendiri. Wouw.
Di rumah sakit Tika pun diperiksa oleh dokter kenalan gue.
Ngga’ begitu lama setelah dokter memeriksa keadaan Tika, kami berdua pulang ke rumah dengan harap-harap cemas. Karena sampe detik ini belum ada kepastian mengenai apa yang sedang terjadi dengan Tika? Apakah dia benar-benar hamil atau sebenarnya dia mengidap penyakit yang selama ini ngga’ kami berdua ketahui sebelumnya.
Hanya beberapa jam setelah kami berdua pulang ke rumah hand phone gue berdering dan ternyata sebuah panggilan dari dokter yang memeriksa Tika tadi. Karena tadi dokter itu berjanji untuk mengabarin gue secepatnya seandainya hasil pemeriksaan mengenai kondisi keadaan Tika telah diketahui.
Apa yang dikatakan dokter itu ke gue cukup ngebuat gue berteriak sekencang-kencangnya, berteriak sehisterisnya, berteriak dan berteriak. Sampe-sampe rasanya gue jadi gemetaran dan ngga’ bisa berdiri. Soalnya dokter itu memberitahukan ke gue kalo ternyata… kalo ternyata Tika mengidap HIV sejak lama, sebuah virus yang mematikan dan sekarang telah positif menjadi AIDS.
Spontan gue dan Tika kembali ke rumah sakit untuk menanyakan kebenaran berita itu. Apakah memang seperti itu keadaan Tika sekarang?
Di dalam perjalanan gue masih kepikiran akan apa yang baru gue denger dari dokter itu. Gue masih berharap dokter itu salah, karena kalau iya artinya gue ngga’ lama lgi akan kehilangan Tika, kehilangan istri gue dan automaticcly gue pun jangan-jangan juga mengidap HIV. Oh shit, gimana dengan harapan gue selama ini untuk jadi ayah dari anak-anak gue? Gimana dengan impian gue untuk ngeberiin bonyok gue cucu? Haruskah semua ini terjadi ke gue? Tapi kenapa Tika selama ini ngga’ menceritakan semua ini ke gue, menceritakan mengenai penyakitnya? Bukankah seandainya dia memberitahu gue lebih awal gue bisa ngebantu dia? Oh Tika, kenapa elo tega ngebohongin gue selama ini? Kenapa Tika?
Di rumah sakit, setelah bertemu dokter itu ngga’ ada yang bisa gue dan Tika lakuin.
Dokter itu benar, Tika memang benar-benar mengidap AIDS. Gue bener-bener ngga’ nyangka kalo hal seperti ini akan terjadi ke gue, ke kami berdua. Gue masih ‘ngga abis pikir gimana ini bisa terjadi ke gue. Tanpa gue sadari, air mata gue mengalir di pipi gue. Air mata yang hampir ngga’ pernah mengalir selama sepuluh tahun belakangan ini, apalagi harus mengalir di depan orang-orang, di depan dokter dan Tika. Gue masih bingung harus ngapain.
Emosi gue membuat gue memeluk Tika erat-erat, sangat erat. Dengan air mata gue yang masih mengalir dan tetap memeluk Tika, gue berbisik di telinganya. Berbisik cukup dekat dan pelan walaupun gue merasa dokter yang masih berada di dekat kami itu bisa mendengar bisikan gue ke Tika. Dengan pelan gue berbisik, gue berkata, “Tika, aku ngga’ mau kehilangan kamu secepat ini. Aku cinta padamu, sangat mencintaimu”.
Tapi, yang terjadi selanjutnya adalah, Tika tersenyum bahkan ia tertawa. Begitupun dokter itu.
Mengapa dengan keadaan seperti ini mereka masih bisa tertawa? Dengan menatap gue yang masih memeluk Tika, dokter itu berkata “Ini semua permintaan Tika, Bang. Dia yang merencanakan ini semua sejak kemarin. Dia hanya ingin mendengar Abang mengatakan itu kepadanya. Mengatakan bahwa Abang mencintainya. Karena selama ini Abang ngga’ pernah mengatakan kalimat itu kepadanya, bahkan setelah sebulan Abang dan Tika menikah sekalipun. Mengenai penyakit itu, Tika ngga’ mengidap AIDS seperti yang Abang kira. Tika sekarang mengandung anak pertama Abang, selamat ya Bang”.
Iya ya, apa yang dibilang dokter itu benar kalo selama ini gue belum pernah sekalipun mengatakan cinta kepada Tika, bahkan mengatakan cinta itu sendiri. Terima kasih, Tuhan. Gue jadi ayah… .
Apa yang gue rasain sekarang benar-benar mukjizat dari Yang Maha Cinta. Sebuah kebahagiaan yang tiada tandingannya.
Kami berduapun, gue dan Tika, segera bergegas untuk pulang ke rumah, tetapi ke rumah bonyok gue. Karena gue udah ngga’ sabar pengen ngeberitahu kabar bahagia ini ke bonyok. Papi, mami, sebentar lagi kalian akan jadi kakek dan nenek. Begitulah isi kepala gue selama perjalanan menuju rumah.
Tika pun terlihat bahagia, sangat bahagia. Gue benar-benar beruntung bisa punya istri seperti dia. Terima kasih Tuhan.
Di perjalanan, Tika minta berhenti sebentar di depan mini market. Dia bilang ada yang ingin dibeli dan gue pun menuruti permintaannya.
Selama dia di mini market gue sempat berfikir, kira-kira kejutan apa lagi yang akan diberiinnya ke gue? Ngga’ berapa lama dari dalam mini market banyak orang-orang berlarian kesana kemari sambil berteriak-teriak. Gue sempat bingung ada apa sebenarnya. Belum sempat kebigungan gue terjawab gue melihat Tika keluar dari dalam mini market. Astaga, tubuhnya penuh darah. Dan dia jatuh tergeletak begitu aja tepat di depan pintu mini market itu. Seorang satpam mendekati gue dan berkata “Istri Bapak menjadi korban penembakan dari perampokan bersenjata yang baru saja terjadi”.
Tidaaak…
~
No Comments so far
Leave a comment
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>