d’ twelves originaL Love poemz [by Me!]
January 7, 2008, 6:59 am
Filed under:
Books
Seandainya
seandainya aku ini malam
aku mau bergantian dengan siang
agar kuintip wajahmu ketika terang
seandainya aku ini siang
aku mau bergantian dengan malam
agar aku mimpimu ketika kelam.
seandainya aku ini samudera
aku mau bergantian dengan angkasa
agar kubawa kau mengelilingi semesta
seandainya aku ini angkasa
aku mau bergantian dengan samudera
agar kau tahu betapa dalamnya ia
bila menjadi aku yang mencintaimu.
Kamilah Cinta
gambar kami pada kilat yang dibawa gemuruh
duduk kami pada kayu yang dibawa bumi
bercerita kami yang didengar angin dirintik hujan
berangan kami untuk sebuah rumah dipenuhi sakinah
seperti sebuah replika kisah yang tak lekang Romeo dan Juliet
terbang kami pada pucuk-pucuk tertinggi duniawi
melintasi yang dituliskan hingga jadilah kerinduan
dengan seluruh cucuran cinta sepuluh bulan kami
dan lupalah kami pada mendiang khianat hati
kamilah cinta jelmaan Adam dan Hawa
Kau Tanpa Kita
ketika aku menulismu
aku juga melihatmu
dan kau tuntun jari-jariku
merasakan indah hatimu
sekarang kau tubuh yang penuh luka,
kau telah menjadi anugerah
seluas tanganmu menggenggam
sehangat hatimu merangkul
seperti diselamatkanNya melalui mu
sekarang kau jiwa yang tak bertuan,
aku ini pecundang
jadilah kau kini tanpa kita.
Sang Tiara,
air mata jatuh dalam irama derasnya hujan
telah bercampur menusuk angan-angan mengoyak,
menghancurkan, mencabik-cabik, hancur tak karuan seperti tiba-tiba,
dan memang tiba-tiba kemana pepohonan?
dimana keramaian?
aku telanjang, hilang langkah, hilang kata, hilang dan begitu saja
seperti darah kehilangan desah,
apa itu gumpalan pucat?
berkerut, dingin tergeletak pada sebuah jalan
tapi lihat !!
bukan mahkota, tiaranya
bukan anggun tiap langkahnya
atau ramah tiap butiran senyumnya
hanya langkah satu persatu itu
hanya iring-iringan harapnya
hanya untai-untaian do’anya
ketika lirih-lirih sesalnya
dan dekap harapan seorang pencinta
merintih tertatih mencoba menggapai lagi
tapi, telah hilang tautannya
karena… Sang Tiara, tetaplah tegar !
luka dan khianat ini akan selesai
saat ucap takbir pertama untukku.
Aku Ini
aku ini bukan keterlanjuran
yang bersedia telanjang atas nama cinta
aku ini cuma seorang angkasa
dengan derita-derita yang tercipta.
aku ini bukan dongeng
yang sanggup diinjak-injak atas nama cinta
aku ini cuma seorang angkasa
yang sedang menunggang waktu
dengan seempuk-empuk pelana cinta.
Melihat Ke Dalam Jiwa
di depan kaca jiwa kugantungkan janji
di sudut bumi kutorehkan darah
akan kuraih mataharimu dengan jariku
dan kupersembahkan hanya untukmu
jika saat itu tiba pandanglah mata hatimu
lihatlah jauh ke dalam jiwamu
pandangi aku dan tanyakan salahmu
atau haruskah kita belajar dari setiap pecahan yang ada?
Sad Countenance
tangisku tak berarti itu merubah niatku
butiran-butiran yang tersisa telah menerangkan semua yang tersesat
menemukan semua jawaban dari detak hati yang belum terpenuhi
jangan pikir duniaku hanya mimpi
jangan anggap duniaku hanya hiasan jiwa
aku berdiri menatap mega alam bukan untuk menggantung harapan
aku tetap menjerit perih bukan untuk bersedih
aku malu bukan karena bersimba maaf
kuhanya salahkan apa yang telah tak kudapatkan
kulihat langit-langit di kamarku
bertanya-tanya pada sudut hatiku
mencari apa yang sebenarnya telah hilang dari aku
hanyalah gambaran-gambaran masa lalu yang tersisa resah,
tak ada arti hingga aku ragu
kuikuti jalan ke mana hatiku menuntun
ingin kulihat sampai di mana ia berhenti.
Don’t Give Me Way
ada senyuman yang membuatku tahu bahwa hidup itu penuh makna
ada tatapan mata yang damaikan rindu yang tak bertepi
juga helai rambut yang membuat jiwaku teriak di setiap waktu di kepalaku, di setiap rongga tubuhku
yang ingin kulakukan adalah memberikan yang terbaik yang aku miliki
yang terbaik yang bisa aku lakukan
sempat hinggap di benakku bahwa aku bisa lari kemanapun aku mau
bahwa aku bisa pergi sejauh yang kumampu
tapi kuyakin bahwa aku tidak akan bisa bersembunyi dari perasaanku
perasaan yang benar-benar menghantuiku
seperti keajaiban yang datang kepadaku
kehangatan yang tidak pernah ada hentinya
dan cahaya yang mampu membunuh perasaanku.
Cinta Yang Tak Inginkan Aku
kucoba katakan selamat tinggal
tapi aku tersedak aku tersungkur
aku sebenarnya punya cinta
cinta yang tak inginkan aku
aku tak tahan dan aku marah,
bahkan murka
sekarang ia bebas
pasti ia tersenyum.
Memento
tak ingin aku kenang waktu kau berlalu pergi jauh dari kehidupanku
tak ingin aku mengingat saat kau berjalan meninggalkanku
atau caramu yang membuatku terjebak dalam keperihan
bahkan sudah pudar pula dalam ingatanku
bagaimana sudut wajahmu atau bagaimana lekuk tubuhmu
kuhanya tahu kini kau telah tumbuh jauh dan berbeda
yang kuingat hanyalah bagaimana cara kita berciuman
bagaimana kita berpelukan
dan bagaimana kau memberikan kasih dan sayangmu hanya untukku
yang kurasakan kini hanyalah bagaimana hangatnya saat itu.
The Sense
kusandarkan tangan dinginku pada dinding
dinding rapuh yang menemaniku
hilangkan semua tentang kemarin
menyadari aku hadir untuk menjadi
di mana aku tidaklah lagi aku selamanya
masa lalu tidaklah nyata
ketika aku ada garis-garis itulah yang salah
sehingga aku terperangkap dan tinggal
sekarang aku hanya berharap aku tidak akan merasakan
di mana ada sesuatu yang terlewatkan.
Terserah
berlamunkan mimpi yang terbungkus imajinasi
digenggam seikat harapan tak bertubuh
seperti melihat apa yang tak tertangkap
tak akan terungkap jika aku berdiam
tak akan nyata dengan hari-hari seperti ini
sepertinya harus sendiri,
membusa kemudian lenyap
tak apa-apa jika harus tak berarti,
karena pasti akan ada tempat tersendiri
walau itu terbuang.
Ketika Cinta Menuntun [by Me!]
Gue udah sering banget bilang ama bonyok kalo gue ngga’ mau yang namanya dijodohi. Emangnya gue ngga’ laku apa? Emang gue ngga’ kren-kren banget, apalagi gue nyadar kalo bokap dan nyokap gue itu siapa. Beliau-beliau itu hanyalah pegawai negeri biasa yang hidup dari gaji minim yang dikasih pemerintah dan itupun hanya sebulan sekali. Belum lagi dituntut untuk membiayai hidup adik gue, gue dan diri mereka sendiri.
Dengan harga-harga yang semakin melunjak tinggi ini, ngga’ berlebihan rasanya kalo gue menyebut diri gue dari keluarga yang sangat super sederhana sekali. Gue dan adik gue emang bisa makan tiga kali sehari, pagi, siang dan malam. Tapi, itu jauh banget dari yang namanya empat sehat lima sempurna. Wah jauh panggang dari api pokoknya. Tapi untuk hobi gue yang satu itu, chating di warnet, gue selalu usahain buat cari sendiri.
Soal request by bonyok, gue tahu bokap dan nyokap ngga’ salah dengan permintaan yang selalu itu dan itu, permintaan agar gue buru-buru nikah. Siapa sih yang ngga’ mau nikah? Cuma masalahnya siapa yang mau nikah dengan cowok kayak gue? Cowok yang tampangnya pas-pasan dan ngga’ punya apa-apa.
Dua hari yang lalu gue kenalan ama cewek dekat rumah, dia anak pindahan dari Jakarta. Katanya ikut bokapnya yang pindah tugas di sini, di Bank Swasta di kota ini. Yang gue denger dari tetangga-tetangga selain kerja di bank bokapnya juga pengusaha yang sangat sukses. Kalo sekedar cantik yang gue bilang untuk dia rasanya gue kurang puas, karena dia memang benar-benar cantik, sangat super cantik sekali. Bahkan kalo ada yang lebih di atas pujian itu gue ngga’ keberatan untuk ngungkapinnya. Dia itu memang cantik banget. Bahkan lebih cantik dari foto-foto cewek yang gue kenal lewat chating di internet.
Kalo gue ngga’ salah ingat namanya Angie, soalnya gue keburu nervest untuk mengingat namanya dengan lengkap. Kalo ditanya apa dia cewek idaman gue atau ngga’ gue pastilah ngejawab kalo dia itu cewek gue banget. Gue ngga’ ngerasa ada kekurangan dari dia. Dia cantik, ramah, udah kuliah meskipun baru semester perdana, beda umurnya dengan gue lebih kurang tiga tahunan dan dia anak orang kaya.
Gimana ngga’ kaya kalo atap rumahnya aja kelihatan dari rumah gue yang jaraknya sekitar seratus meter dari rumah dia, ditambah lagi garasinya yang segede rumah gue itu dipenuhi dengan mobil-mobil mewah. Rasanya ngga’ ada alasan bagi gue untuk ngga’ ngedeketin dia karena siapa tahu aja dia juga suka gue.
Yang jadi masalah adalah gue dan dia bagaikan kerak bumi dengan langit ke tujuh. Dia berpendidikan, sedangkan gue? Dia terawat dengan baik, sedangkan gue? Jangan-jangan gaji bokap dan nyokap gue selama dua bulan kalo dikumpulin ngga’ akan cukup untuk beli parfum yang dia pake’.
Semenjak acara kenalan gue yang ngga’ sengaja di warung dekat rumah dua hari yang lalu itu, gue jadi kepikiran dengan permintaan bonyok agar gue buru-buru nikah. Sebenarnya gue tanpa mereka mintapun juga pengen buru-buru nikah. Andaikan gue dapat kerjaan di tempat idaman gue, di Pertamina, pasti sekarang juga gue lamar si Angie, soal dia mau atau ngga’ masalah belakangan. Yang pasti gue pede aja lantaran udah ada pegangan hidup buat ngasih makan anak orang.
Selama ini bukannya gue ngga’ pernah usaha buat nyari kerja. Gue udah keliling-keliling ngebawa surat lamaran dan ijazah gue, tapi ngga’ ada satu tempat pun yang mau nerima gue, ya tentu aja dengan alasan klasik kalo mereka sedang ngga’ ngebutuhin karyawan baru. Emang sih, zaman sekarang nyari kerja ngga’ gampang. Kalo skill yang gue punya standar ama orang kebanyakan, yah jelas gue bakalan kalah saing. Karena zaman sekarang ini, diakui atau ngga’ diakui sedikit banyak relasi dan uang juga berperan penting untuk meniti karir.
Lama gue berpikir, akhirnya gue mutusin untuk nemui Angie secepatnya dan mengatakan kalo gue suka dia, kalo gue pengen dia jadi istri gue. Bukannya apa-apa, gue cuma takut kalo dia keburu dilamar orang lain. Sebenarnya hal itu ngga’ masalah mengingat perbedaan yang kami miliki. Hanya aja, gue ngga’ mau menyesal karena ngga’ pernah mengatakannya. Setelah dipikir-pikir lagi ngga’ apa-apa juga soal gue yang belum punya kerjaan karena kalo nungguin gue dapat kerjaan kayaknya kambing udah berkukuk pun gue bakalan belum dapat juga.
So, lebih baik mengambil resiko 95 % ditolak mentah-mentah daripada harus mati dengan rasa penasaran. Menurut gue itu lebih baik. Lagian siapa tahu dia juga suka gue, dia terima gue, toh soal kerjaan atau harta kan ngga’ masalah bagi dia. Siapa tahu gue malah dikasih kerjaan. Matrealistis sedikit kan ngga’ apa-apa. Hari gini siapa sih yang ngga’ matre? Kalo begitu besok malam gue akan main ke rumahnya dan mengatakan mengenai keinginan gue itu.
Dan malam ini, malam yang udah gue janjiin ama diri gue sendiri untuk nemui Angie dan mengatakan keinginan gue itu, setelah mengumpulkan 50 % rasa pede, 40 % keberanian, 5 % speak-speak yang udah gue siapin dan sisanya 5 % untuk kalo-kalo ada keberuntungan yang datang ke gue, gue pergi dari rumah tepat jam tujuh teng-teng.
Sebelum ke rumahnya gue mampir dulu ke warung kecil dekat rumah. Rencananya gue mau beli permen biar ntar pas ngomong wangian, ya paling ngga’ Angie nya ngga’ keganggu nafas gue.
Tanpa ragu-ragu gue melangkah dari rumah. Dengan siulan yang banyak fals nya daripada merdunya, akhirnya gue sampe juga di depan rumah si Angie. Mudah-mudahan dianya ada di rumah, karena kan biasanya anak orang kaya seperti dia pada jam-jam segitu ngga’ ada di rumah. Ya, pasti masih sibuk dengan segala macam aktivitas yang beragam mulai dari les vokal sampe hang out bareng temen-temen.
So, this is the time to push the bel.
Ngga’ heran lagi kalo yang keluar buat nemui gue pertama kali adalah satpam yang bekerja di rumahnya. Lumayan kekar untuk ukuran satpam di kota ini. Tanpa basa-basi lagi gue langsung nanyain satpamnya apakah Angie ada di rumah dan apakah gue bisa ketemu dengan dia sekarang juga. Dengan keramahan yang dimiliki satpam itu gue dipersilahkan menunggu sebentar di dekat pos penjagaan sementara dia menelfon ke dalam untuk ngasih tahu majikannya, Angie, atau siapapun yang ada di rumah yang seperti istana itu kalo ada yang ingin menemui Angie.
Ngga’ lama berselang, Angie pun keluar dari rumah menuju pos penjagaan, menuju ke arah gue. Yang artinya Angie malam ini ngga’ kemana-mana, dia ada dirumah dan mau bertemu dengan gue. Astaga, meskipun dia hanya mengenakan piama, iya piama yang berwarna pink itu, dia kelihatan sangat cantik bahkan anggun. Dan tiba-tiba jantung gue berdegup kencang, entah kenapa. Antara nervest, minder, senang bercampur jadi satu. Menjadi satu seperti angin yang berhembus semilir dibalut dinginnya udara malam ini.
“Hi Angie”, begitulah gue memulai percakapan singkat di pos penjagaan sebelum akhirnya dia mengundang gue masuk ke dalam rumahnya dan menikmati secangkir teh hangat di ruang tamunya.
Sudah hampir setengah jam gue menghabiskan waktu bersama Angie dan ngga’ satu katapun terucap mengenai maksud yang membawa gue menemui Angie. Gue berpikir mungkin sekarang waktunya belum tepat karena gue takut ngerusak suasana yang indah ini, seindah matahari pagi tersenyum. Tapi kalo ngga’ sekarang kapan lagi? Benar, kalo ngga’ sekarang kapan lagi?
Seiring hitungan mundur dari angka lima yang gue ucapin di dalam hati, Angie pun segera mengetahui maksud hati gue, keinginan gue, keingininan yang membawa gue datang untuk menemuinya malam ini. Dan dia terperangah sesaat, cukup terperangah untuk cewek seanggun dia.
Semenit segera berlalu, dua menit berlalu, tiga menit berlalu hingga lima menit berlalu semenjak gue mengatakan keinginan gue yang di luar akal sehat itu.
Dia masih terperangah.
Sekarang gentian giliran gue yang bengong ngelihat sikap dia, karena pada menit ke enam menurut waktu di jam tangan gue, dia bergegas mengambil hape nya yang super slim itu. Jangan-jangan dia mau ngeminta satpamnya yang kekar itu buat ngusirin gue atau jangan-jangan gue mau dilempar pake’ hape. Gawat!.
Wuihh…, lega juga mengetahui kalo gue salah duga, karena ternyata dia hanya ingin menelfon. Meskipun dia berdiri agak jauh dari tempat kami duduk, gue bisa ngelihat kalo raut wajahnya menjadi kelihatan serius saat ia menelfon. Bahkan Lebih serius dibandingin dengan Pak Presiden saat menyampaikan pidato kenegaraan.
Tapi itu ngga’ lama karena sekarang sepertinya dia udah kembali tersenyum seperti semula, tetap tersenyum dengan sambil menggenggam hape dan berjalan ke arah gue. Kira-kira ada apa ya? Kira-kira jawaban apa ya yang akan gue terima? Apakah penolakan atau keajaiban? Entahlah, saat ini hanya dia yang tahu. Yang jelas, inilah pertama kalinya gue ngerasain yang namanya dag dig dug. Dan ini benar-benar aneh.
“Gini…” itulah kata pertama yang diucapkan Angie sebelum dia mulai ngejelasin satu persatu mengenai jawaban atas pertanyaan dan permintaan gue tadi. Karena Angie ngga’ langsung memberikan gue jawabannya melainkan malah balik ngasih gue pertanyaan-pertanyaan.
Pertanyaan pertama dimulai dari apakah gue sanggup ngelakuin apa aja untuk ngebuktiin ke dia kalo gue bener-bener serius dengan dia, kalo gue bener-bener cinta dia sampe-sampe gue minta dia buat jadi istri gue. Yang tentunya gue sanggupin saat itu juga.
Lalu diapun ngejelasin ke gue kalo emang gue sanggup dia mau gue ngelakuin satu hal. Bagi gue sih, gue rela ngelakuin apa aja untuk ngebuktiin ke dia kalo gue serius. Selama itu bukan memetik bulan dan menyeberangi samudera, dengan kata lain selama itu masih masuk akal.
Angie Angie…, ternyata permintaannya emang masuk akal, tapi tetap aja ngga’ masuk akal untuk zaman seperti sekarang ini dan ngga’ pernah gue duga sama sekali. Kenapa gue bilang ngga’ masuk akal? Itu karena dia minta gue untuk menjadi pengantar koran di kota ini selama dia masih kuliah. Yang artinya kurang lebih tiga sampe empat tahun. Lagian masa’ gue yang sarjana gini jadi pengantar koran? Kan gengsi.
Untuk ngejawab pertanyaan yang satu ini gue emang butuh waktu beberapa saat walaupun akhirnya gue sanggupin juga. Selain itu dia juga nanyain ke gue satu hal yang harus gue jawab jika tugas gue telah selesai sebagai pengantar koran. Benar-benar sebuah pertanyaan yang cool menurut gue. Pertanyaan itu adalah, kenapa orang-orang menjual rokok dan korek api secara terpisah, kenapa ngga’ sekalian aja rokok dijual sekaligus dengan korek apinya? Tapi demi cewek yang secantik dan sekaya dia, apa sih yang ngga’?
Dia lebih banyak tersenyum setelah gue nyanggupin syarat-syarat yang diajuin ke gue. Dan jawaban yang gue dapat hanyalah janji, dia ngejanjiin ke gue kalo seandainya gue sanggup jadi pengantar koran di kota ini tanpa satupun complain dari para pelanggan dia bersedia untuk jadi istri gue dan selama gue jadi pengantar koran dia bersedia menunggu gue untuk ngga’ nikah terlebih dahulu.
Bayangkan, mengantar koran ke para pelanggan tanpa satu complain pun selama lebih kurang tiga sampe empat tahun rasanya ngga’ masuk akal ama sekali. Ditambah lagi pertanyaan yang gue ngga’ tahu jawabannya sama sekali itu. Rasanya ini seperti penolakan secara halus oleh Angie, sehalus kulit putihnya.
Dengan membawa oleh-oleh syarat-syarat yang diajuin Angie, gue pun pulang ke rumah.
Malam telah berganti pagi, dan pagi ini, di mana kabut masih bercengkerama dengan matahari pagi gue pun bersiap-siap. Seperti yang udah gue janjiin semalam, pagi ini adalah pagi pertama gue sebagai pengantar koran, pengantar koran yang akan berkeliling mengitari kota dengan mengayuh sepeda butut adik gue. Pagi yang sekaligus hari dimana gue harus ngebuang jauh-jauh kata gengsi dalam kehidupan gue untuk selama-lamanya. Pagi dimana keputusasaan gue bercampur dengan semangat demi seorang cewek, demi seorang Angie. Pagi di mana gue harus pergi ke salah satu kantor koran harian untuk mengambil koran-koran dan sekaligus daftar namanya. Pagi yang ngga’ pernah gue impi-impikan sebelumnya. Dan pagi yang pasti ngga’ akan gue lupain seumur hidup.
Bahkan hingga pagi ini gue pun belum bisa ngelupain pagi itu, pagi yang setelah tiga tahun berlalu semenjak pagi pertama dan terakhir gue sebagai pengantar koran itu, pagi di mana gue dan Angie harus buru-buru ngebawa Tania ke posyandu di dekat rumah kami untuk diimunisasi. Iya, Tania. Tania anak perempuan kami yang lucu, sehat dan pintar. Dan pagi di mana gue bersyukur dengan Yang Maha Cinta seperti yang gue lakuin di setiap pagi-pagi sebelumnya. Bahkan hingga pagi ini, gue masih ingat gimana persisnya pagi pertama gue sebagai penjual koran itu gue lalui.
Waktu itu, ternyata Angie telah menunggu di rumah salah satu pelanggan koran yang akan gue anterin korannya, dan dia yang ngebukain pintu buat gue walaupun seharusnya gue bisa nyelipin koran itu di bawah pintu. Karena ternyata, salah satu diantara banyak daftar nama pelanggan korang yang gue bawa, salah satunya adalah temannya.
Malam itu, ketika gue nyangkain dia mau ngusirin gue ataupun ngelempar gue pake’ hape, ternyata yang dia telfon adalah salah satu teman bokapnya yang punya perusahaan penerbit salah satu koran harian di kota ini.
Gue juga masih ingat dengan jelas gimana kebengongan-kebengongan di muka gue yang ngebuat Angie tersenyum manis, sangat manis. Ngga’ perlu nungguin begitu lama untuk mengetahui ada apa sebenarnya. Karena Angie mulai ngejelasin ke gue siapa dia sebenarnya dan apa yang ngebuat dia dan bokapnya pindah ke kota ini, ke kota di mana gue tinggal, lahir dan dibesarkan.
Dia ngejelasin ke gue kalo sebenarnya gue udah lama kenal dia sebelumnya bahkan gue sempat baik dan care ke dia sampe-sampe dia jatuh cinta dengan gue dan ngga’ peduli siapapun dan seperti apa gue.
Hanya aja waktu itu nama dia bukan Angie melainkan Ani. Ani yang gue kenal lewat chating di internet enam bulan sebelum gue dan Angie berkenalan secara nyata di dekat rumah gue. Ani yang waktu itu sebuah tokoh yang sengaja Angie buat untuk mencari cinta sejatinya, cinta yang ngga’ peduli apakah dia cantik atau ngga’, cinta yang ngga’ peduli apakah dia kaya atau ngga’, cinta yang hanya peduli mengenai hati semata, dan cinta yang hanya peduli mengenai arti kebaikan dan kasih sayang yang tulus tanpa ada timbal-balik di belakangnya. Ani yang waktu itu gue kasih semangat terus menerus untuk tetap hidup meskipun dia udah ngga’ punya apa-apa lagi dan hidup sebatang kara. Ani yang hampir diperkosa oleh majikan pemilik warnet di tempat dia bekerja. Ani yang bukan siapa-siapa gue. Ani yang jatuh cinta dengan ketulusan gue sebagai seorang cowok. Dan itulah yang ngebuat Ani yang sekarang ternyata adalah Angie yang pindah ke kota ini. Kota dimana dia yakin bisa ngedapetin cinta sejatinya.
Dia juga ngejelasin kenapa gue hanya sehari sebagai pengantar koran dan ngga’ sampe dia selesai kuliah. Karena dia pikir sehari atau bertahun-tahun pun sama. Yang dia hanya perlu tahu, apakah gue masih cowok yang sama dengan yang dia kenal lewat chating di internet dulu. Cowok yang tanpa pamrih memberikan perhatian dengan tulus untuk cewek yang ngga’ punya apa-apa dan ngga’ dikenal.
Yang ngga’ dia jelasin hanyalah jawaban dari pertanyaan mengenai rokok itu, pertanyaan kenapa orang-orang menjual rokok dan korek api secara terpisah, pertanyaan kenapa ngga’ sekalian aja rokok dijual sekaligus dengan korek apinya? Hanya itu.
Tapi entah kenapa pagi itu tiba-tiba gue dihadapan dia yang sedang berdiri tersenyum manis dan menatap gue dengan dalam mampu ngejawabnya. Karena tiba-tiba aja gue ngejawab, gue ngejawab bahwa itu karena hidup ngga’ selalu sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Kita hanya harus bersyukur dengan apa yang telah kita punya dan kita raih. Lagipula korek api tersedia dan bisa didapat di mana aja, bahkan bisa didapat dengan ibu-ibu rumah tangga yang tidak ngerokok sekalipun. Jawaban itu juga yang ngebuat Angie ngemeluk gue erat-erat dan berkata kalo dia mau menjadi istri gue.
Kalo begitu cinta sebenarnya bukanlah tinggal dipikiran kita melainkan tinggal jauh di dalam hati dan ia yang menuntun kita pabila ia menilai kita pantas.
~
Shadow of Her [by Me!]
January 2, 2008, 8:52 am
Filed under:
Books
little bit of my complaints and i feel so scared
it’s so hard to convince me about what kind of this feelin’ ?
always fall to the stumped street, but i believe this is real
just one thing that somebody should know, soon
i woke up with a nice dream that i haven’t before
one month ago …
it’s happen and itsn’t real
it’s look i see the heaven in her ocean eyes
this sound isn’t too good for me
although i often hear the reverberation in my mind
then i don’t see the time again
suddenly she have live inside of me
foresight of all, everything
and everything become different
there is no sense i can show, there is no chance to prove
just lying in my way, in my own way
day by day passed, no questions with the answer
amazing me, there are so lot of questions since that day
and i so scared by the shadow.
Oupss…! [by Me!]
December 28, 2007, 10:20 am
Filed under:
Books
Ada benarnya juga yang dibilang si Sycil kalo terkadang orang yang kita cintai adalah orang yang membawa kita ke dalam kehancuran dan teman yang berbagi penderitaan dan menangis bersama kita adalah cinta yang ngga’ disadari sebelumnya. Kenapa gue baru nyadar sekarang ya? Padahal dulu gue sempat ngeledek Sycil waktu dia bilang ke gue soal itu setengah tahun yang lalu.
Tapi hari ini mata hati gue benar-benar terbuka. Mencintai Ingka sungguh sebuah kemubaziran cinta. Memang seharusnya gue ngga’ boleh berbicara seperti itu tapi gue ngga’ tahu harus ngomong apa dan gimana lagi setelah dengan mata kepala gue sendiri gue ngelihat mereka, Ingka dan Aldo sahabat gue dari semester satu, berciuman di ruang tamu rumah Ingka di pagi ketika seharusnya kami berdua pergi ke studio foto.
Sungguh dua buah penghianatan yang menakjubkan, seorang Ingka yang gue cintai selama ini dan seorang Aldo yang udah gue anggap seperti saudara sendiri, benar-benar berhasil bahkan sangat sukses ngebuat gue jadi seperti orang terbodoh di dunia. Seperti seekor keledai yang mati kelaparan di tengah padang rumput, seperti seekor ikan yang mati tenggelam di dalam air. Baiklah, selamat untuk kalian berdua.
Tapi biarlah, gue yakin dengan keputusan Yang Maha Cinta kalo ada hikmah yang besar di balik yang terhancur sekalipun, Amin.
Dan siangnya, masih dengan kepunah ranahan dan kekecewaan terbesar gue untuk arti sebuah kepercayaan, Sycil datang ngejemput gue dengan tanpa ekspresi turut berduka sedikitpun. Padahal jelas-jelas kalo dia orang pertama yang gue telfon buat ngasih tahu pemandangan akbar itu. Tapi itulah Sycil. Dia selalu tersenyum dan berusaha ngebahagian gue dengan canda-candanya yang khas ala originalnya dia yang cuma satu-satunya. Meskipun gue tahu kalo sebenarnya dia selalu peduli dan bahkan terlalu peduli terhadap apa-apa yang menimpa diri gue.
Tapi siang itu Sycil bukan ngejemput gue buat minta temenin ke mall ataupun ngajakin lunch bareng seperti biasanya. Melainkan pergi ke pemakaman salah seorang teman smu nya dulu, Gyala. Sycil bilang sih Gyala itu dulu adalah salah satu sahabatmya, pada waktu kelas satu smu yang hanya sebulan dikenalnya karena Gyala di drop out dari sekolahan lantaran berantem dengan salah satu guru bahasa Inggris mereka, yang kemarin malam telah pergi terlebih dahulu pindah ke rumah baru di mana bintang malam tinggal, disebabkan RacunSS yang biasa terdapat pada racun serangga cair. Diduga Gyala stress berat sehingga memutuskan jalannya sendiri untuk lebih dulu pindah ke rumah baru nya, rumah akhirat.
Ngga’ begitu lama setelah Sycil ngomel-ngomelin gue buat buru-buru tukar baju akhirnya siang itu kami berdua pun pergi ke pemakaman umum, tempat di mana Gyala dimakamkan.
Di perjalanan itulah gue ngerasa kalo Sycil seperti cinta yang ngga’ pernah gue sadari sebelumnya. Seperti yang dia bilang ke gue setengah tahun yang lalu. Memang gue dan Sycil udah lama kenal, kami bersahabat semenjak masih smp dan sampai sekarang. Yang pasti selama perjalanan gue ngerasa ada yang lain dengan perasaan gue terhadap Sycil, ngga’ seperti selama ini. Seperti perasaan gue waktu bersama-sama Ingka dulu.
Mungkin itulah yang dimaksud Sycil dengan “terkadang orang yang kita cintai adalah orang yang membawa kita ke dalam kehancuran dan teman yang berbagi penderitaan dan menangis bersama kita adalah cinta yang ngga’ disadari sebelumnya.”
Tapi apa mungkin kalo gue jatuh cinta ama sahabat gue sendiri? Kalo gue jatuh cinta ke Sycil? Entahlah.
Setelah sekitar seperampat jam perjalanan dengan menggunakan mobil Sycil akhirnya gue dan Sycil pun sampai juga. Seperti suasana pemakaman pada umumnya dimana orang-orang mengenakan semua yang serba hitam, gue ngelihat seseorang yang mungkin dari tadi merhatiin gue semenjak gue turun dari mobil.
Tadinya sih gue cuek aja dan berdiri manis diantara para pelayat lainnya yang juga menghadiri pemakamannya Gyala. Karena Sycil waktu itu terlihat sibuk membagi-bagikan air mata dan pelukannya kepada keluarga Gyala dan beberapa sahabatnya. Tapi setelah gue ngerasa ngga’ nyaman, yang dari tadi dilihatin orang yang duduk di dalam mobil sedan hitam itu, akhirnya gue nekad juga buat ngedeketin orang itu.
Dengan berjalan kaki dari tempat gue berdiri ke arah mobil sedan hitam itu, ke arah orang yang menatap gue sedari tadi itu, paling-paling hanya lima belas detik. Setelah itu, gue mengulurkan tangan ke dia sebagai maksud baik untuk berkenalan. Dengan nada pelan, gue perkenalkan nama gue ke dia. “Frischa”, ya begitu orang itu menyebut namanya sambil menyambut uluran tangan gue.
Gila…. Setidaknya kata-kata itulah yang gue teriak-teriakan di hati gue. Gimana gue ngga’ teriak kalo ternyata orang yang menatap gue itu adalah cewek yang begitu cantik dengan suara terlembut yang pernah gue denger. Iya Frischa memang benar-benar cantik. Dan ngebuat gue hampir jadi salah tingkah.
Kesempatan yang begitu langka itu jelas ngga’ gue sia-siain begitu aja. Hitung-hitung buat sedikit ngelupain apa yang udah dilakukan Ingka dan Aldo ke gue. Dengan speak-speak gue yang sedikit terlatih, gue pun menyerang dia dengan beberapa pertanyaan yang terkesan sedikit menginterogasi sehingga ngebuat kami berdua bertukaran nomor hand phone.
Ngga’ lama setelah itu Sycil pul mendekati gue dan Frischa menaikkan kaca mobilnya. Yang artinya waktu perkenalan gue siang itu dengan Frischa telah selesai. Sycil pun menggenggam tangan gue dan membawa gue serta menuruti langkahnya masuk ke dalam mobil untuk kembali nganterin gue pulang.
Dalam perjalan pulang, dengan perasaan yang bertambah aneh terhadap Sycil, gue pun mengingat-ingat perkenalan tadi. Dan gue piker biarlah Sycil ngga’ perlu tahu.
Dan ketika matahari dengan garangnya menyinari seluruh angkasa, di hari setelah satu minggu terlewati semenjak hari di mana gue mengubur dalam-dalam cinta gue ke Ingka bersama dengan pemakaman Gyala siang itu, akhirnya gue pun telah melupakan semua perasaan yang pernah tercipta oleh Ingka, Ingka dan Aldo.
Bisa jadi mungkin karena waktu-waktu yang diberikan Frischa. Satu minggu semenjak perkenalan di pemakaman itu kami habiskan dengan sms dan telfon-telfonan. Bagi gue sekarang, sedikit banyak Frischa udah ngebantu menyatukan kepingan-kepingan hati gue yang sempat berserak-serakan, yang membuyar oleh seribu kekecewaan.
Dan tibalah waktu yang ngebuat gue sedikit bingung. Bingung gimana harus menjelaskan ke Sycil kalo gue sekarang lagi dekat dengan seorang cewek dan ada janji makan malam nanti malam. Entahlah, rasanya gue seperti menghianati Sycil jika gue ngga’ memberi tahu perkara gue dan Frischa. Baiklah, gue berjanji dalam hati gue sendiri kalo gue akan membeberkan semua ini nantinya setelah makan malam gue dan Frischa. Lebih baik terlambat daripada ngga’ ama sekali.
Walaupun sedikit seperti dikejar-kejar rasa bersalah akhirnya gue putusin untuk pergi makan malam yang udah gue janjiin dengan Frischa.
Di dalam angkot, beberapa menit menjelang gue sampai ke te tampat makan malam yang gue dan Frischa sepakati, gue berubah pikiran. Ngga’ bisa, gue ngga’ boleh sampe ngga’ cerita ke Sycil. Karena gimanapun dialah yang selama ini ada dan selalu ada di saat gue terpuruk, jatuh dan menghampa di dalam kepingan-kepingan hati yang membuyar. Lantas bagaimana mungkin gue bisa-bisanya ngga’ nyeritain semua ini ke Sycil? Ngga’ nyeritain hubungan yang ada di antara gue dan Frischa.
Entahlah, setelah memutuskan itu semua, gue ngerasa lega. Lega banget. Bahkan ngga’ cukup pas kalo hanya kata lega yang gue nyatain.
Gue pun turun di tengah jalan dan segera naik angkot yang berbalik arah menuju rumah Sycil. Lagian gue pikir masih ada lima belas menit lagi sebelum jam setengah delapan malam. Sebelum waktu yang kami, gue dan Frischa, sepakati untuk makan malam.
Di depan rumah Sycil gue pun menarik nafas dalam-dalam. Berharap Sycil ngga’ marah dengan semua yang gue certain nantinya. Kalo sebenarnya gue mungkin sebentar lagi akan dapat pengganti Ingka.
“Baiklah Sycil, begini…”. Dengan kalimat itulah gue memulai cerita gue di depan pintu setelah sebelumnya Sycil membukakan pintu rumahnya yang gue gedor-gedor dua menit sebelumnya. Tapi seperti Sycil yang memang Sycil, dia langsung menutup telinga dengan tangannya pertanda dia ngga’ mau mendengarkan penjelasan apa-apa dari gue.
Gue tahu itu bukanlah sikap yang menunjukan kalo dia sedang marah melainkan emang Sycil ngga’ pernah mau menerima siapapun dan bercerita dengan siapapun sebelum duduk di ruang tamunya. Dan untuk gue yang udah sangat dekat, ngga’ apa-apa kalo di kamar tidurnya. Meskipun gue jarang banget untuk mau masuk ruang pribadinya itu.
Tapi kali ini ngga’. Gue ngerasa lebih baik gue menceritakan di kamar tidurnya buat jaga-jaga siapa tahu Sycil bakalan marah-marah atau apalah yang menunjukkan kekesalannya ke gue.
Tanpa ragu-ragupun gue manaiki anak tangga menuju kamarnya. Dan dengan keheranan di wajah Sycil, diapun mengikuti tepat dibelakang langkah gue disertai kerutan-kerutan segar di keningnya.
Kamar Sycil yang ngga’ dikunci memudahkan langkah gue buat segera menerobos masuk dan duduk di atas tempat tidurnya. Sycil yang dari tadi masih membisu akhirnya ikut duduk di kursi meja belajarnya, tepat di depan gue. Hanya satu detik sebelum gue melancarkan niat gue buat ngasih tahu ke Sycil gerangan apa yang membawa gue malam-malam menerobos ke kamar tidurnya, mulut gue tiba-tiba terkunci rapat saat gue ngelihat foto-foto yang berserakan di tempat tidur Sycil. Biji mata gue seakan ingin keluar dengan sesegera mungkin untuk memasati dengan jelas, benarkah di antara foto yang berserakan itu salah satunya adalah foto Frischa?
Mata Sycil yang begitu tajam seperti elang kelaparan itu masih mengawasi gerak-gerik gue yang mungkin ngga’ dia mengerti sama sekali. Apalagi disaat gue mengambil beberapa foto yang salah satunya adalah foto Frischa itu. Iya benar ini adalah Frischa, hati gue menjerit seketika saat gue melihat dalam-dalam ke foto Frischa. Walaupun baru ketemuan sekali pada saat pemakaman Gyala itu tapi gue yakin kalo wajah, alis, mata, hidung, bibir dan senyuman ini adalah seratus sembilan belas persen milik Frischa.
Kebingungan yang seketika membanjiri ruang-ruang hati gue yang tanpa gue sadari ngebuat gue terdiam seperti dihentikan oleh waktu. Gimana mungkin foto Frischa ada pada Sycil? Apakah mereka berteman? Lantas kenapa selama ini gue ngga’ tahu kalo Sycil punya temen seorang Frischa? Lalu gimana dengan makan malam gue? apakah gue harus menceritakan ke Sycil sekarang juga mengenai Frischa? Jangan-jangan kalo gue ceritain sekarang, Sycil bisa marah-marah kalo dia tahu gue mau makan malam dekat dengan salah satu sahabatnya, Frischa, tapi dia ngga’ dikasih tahu sama sekali sebelumnya, sedikitpun.
Pertanyaan-pertanyaan ini harus terjawab. Tapi nantilah, setelah gue makan malam dengan Frischa.
Dalam keadaan sembilan puluh sembilan persen akhirnya gue bilang ke Sycil mengenai acara makan malam gue yang tinggal dua menit lagi itu.
“Sycil, gue mau bilang ke elo kalo gue dua menit lagi ada janji makan malam dengan seorang cewek. Gue harap elo ngga’ marah karena gue ngga’ ceriata apa-apa sebelumnya ke elo”.
“Terus kenapa elo masih disini? Iya, gue ngga’ apa-apa kok. Gue bisa ngertiin elo. Asalkan elo bahagia, gue juga bahagia”.
“Ma kasih ya Cil, elo emang sahabat gue yang paling baik sedunia. Kalo gitu gue pergi dulu ya, ntar gue janji, sepulang dari makan malam gue telfon lo dari rumah. Tapi lo jangan tidur dulu, tungguin gue ya Cil”.
“Oke oke, gue janji me elo gue akan nungguin kabar dari elo. By the way, kalo elo mau elo bisa pake’ mobil gue kok”.
Gue peluk Sycil erat-erat pertanda perasaan gue sedikit lega yang disertai kecupan Sycil di pipi gue.
Di tempat makan malam, dari kejauhan gue bisa ngelihat kalo Frischa udah nungguin gue. Semoga Frischa mau ngerti ntar, kalo naek angkot kadang-kadang ngebuat cewek harus bijaksana untuk menunggu lebih dulu di meja makan daripada cowok pada beberapa kasus janjian seperti gue ini.
Kefeminiman seorang Frischa pada acara makan malam itu ngebuat waktu terasa begitu anggun dan bersahabat dengan gue. Canda tawanya ngebuat gue jadi lupa apa itu arti dikhianati.
Disela-sela makan malam, kami bercerita banyak hal. Dan yang paling gue ingat ketika Frischa bilang kalo gue harus membiarkan hati gue mengalir mengikuti anak sungai perasaan gue yang terdalam di mana hati gue bisa menemukan kebahagiaan sejati seperti cahaya abadi yang bersinar tiada hentinya.
Meskipun begitu, sesekali gue teringat Sycil. Ya wajar saja, mungkin karena gue udah janji ke Sycil kalo gue mau ceritain semuanya tentang Frischa begitu acara makan malam ini selesai.
Tepat jam sembilan malam kami berduapun, gue dan Frischa, pulang ke rumah masing-masing. Frischa malam itu pulang dengan menggunakan taksi dan gue seperti ketika pergi tadi, menggunakan angkot.
Tetapi di dalam perjalanan pulang Sycil sms gue dan bilang kalo gue sebaiknya menceritakan semuanya seperti janji gue tadi di rumahnya aja. Ternyata Sycil benar-benar penasaran.
Di rumah Sycil, dia udah menunggu di muka pintu rumah dan berlari-lari kecil menyeret tangan gue untuk segera menceritakan semuanya di kamar tidurnya begitu gue menginjakan kaki di teras rumahnya.
Akhirnya, waktu yang telah gue janjiin ke Sycil pun tiba.
“Baiklah Sycil gue yang manis, gue akan ceritain ke elo semuanya dari awal”.
Begitulah gue mulai menceritakan ke Sycil gimana-gimananya gue bisa berkenalan dengan Frischa sampe akhirnya janjian makam malam tadi. Sedikit cemas gue pun mengambil salah satu foto yang masih berserakan di tempat tidur Sycil tadi. Foto itu adalah foto Frischa. Sebelumnya gue sempat nanyain ke Sycil kenapa foto-foto itu berserakan di tempat tidurnya dan Sycil bilang dia Cuma ingin menata ulang foto-foto tersebut di album foto sekalian melihat-lihat foto-foto teman-temannya yang udah jarang banget ketemu itu.
“Cil, maaf. Ini foto Frischa kan? Sebenarnya Frischa lah cewek yang gue ceritain itu. Elo ngga’ marah kan Cil?”
Sycil seketika terdiam. Badannya berkeringat dan wajahnya memucat pasi seperti diselimuti salju. Astaga, Sycil pasti marah banget ama gue.
“Yang bener?” Dengan nada pelan antara ingin berkata dan dan tidak Sycil coba meyakinkan dirinya.
“Iya bener, emang kenapa Cil? Elo marah ya ma gue?”
“Ng.., Nggak kok.”
“Trus elo kenapa jadi gitu Cil?” Kok elo jadi berubah gitu?”
“Gue tahu kalo selama ini elo baik banget ama gue. Tapi..”
Entah kenapa Sycil memotong perkataan gue. Dan semuanya menjadi jelas kenapa Sycil tiba-tiba berubah menjadi seperti itu. Semuanya menjadi jelas saat Sycil ngeberi tahu gue saat itu.
Cerita ini udah lima tahun gue simpan dan ngga’ ada siapapun yang tahu selain gue, Sycil, dan Angie. Oh iya, Angie itu anak pertama gue dan Sycil.
Dan apa yang Sycil bilang malam itu adalah :
“Ta.. tapi, yang elo pegang itu foto, fo… foto Gyala”.
~
Ketika Cinta Ingin Diucap [by Me!]
December 28, 2007, 10:06 am
Filed under:
Books
Kalo dipikir-pikir gue ini kurang apa sebagai cowok. Badan atletis, tampang cool, mobil kren, rumah gede, depositopun juga ada di setiap bank di kota ini. Lagian siapa yang ngga’ kenal gue di kota ini? Seorang excecutive muda tetapi udah memimpin dan punya dua belas perusahaan walaupun dapat dari warisan bokap. Mulai daru perusahaan air mineral sampe perusahaan pakaian khusus wanita. Trus kenapa sampe sekarang gue belum punya cewek juga? Kenapa ngga’ ada satupun cewek yang mau jadi istri gue? Jangankan istri, pacar aja ngga’ ada sampe sekarang.
Kalo dibilang gue gay, rasanya ngga’ mungkin. Kenapa ngga’ mungkin? Karena koleksi vcd dan dvd bf gue banyak, lagian gue yakin kalo gue jadi ereksi setiap ngelihat bintang-bintang cewek di film-film bf yang gue koleksi itu beraksi. Lantas, kenapa sampe sekarang gue masih jomblo juga? Apa karena warisan cap play boy yang diwarisin kakak gue yang udah beberapa tahun ini menetap diluar negeri? Jadinya cewek-cewek pada ngerasa mikir buat dekat dengan gue lantaran takut dimainin? Tapi, masa iya? Lima tahun yang lalu sih ngga’ masalah dengan kesendirian gue yang tanpa cewek ini, tapi sekarang, bulan depan ini usia gue udah genap 23 tahun.
Belakangan ini seluruh karyawan mapun karyawati di salah satu perusahaan gue mulai ribut-ribut. Mereka berpikiran sepertinya perusahaan akan terkena masalah. Sebenarnya bukan masalah besar menurut gue. Ini hanya masalah yang akan didapat secara tak langsung dari dampak adanya rancangan undang-undang baru di negara gue yang tercinta ini, yang katanya akan mengatur mengenai pornografi dan pornoaksi.
Ya, bagaimana tidak. Perusahaan gue yang satu ini sudah sejak lama memproduksi baju bikini. Baju yang memperlihatkan aurat-aurat yang terlarang apalagi untuk diperlihatkan bagi konsumsi umum kalo seandainya rancangan undang-undang itu disahkan.
Yang mereka ributkan bukan mengenai batasan antara pornografi dan pornoaksi yang tidak jelas batasannya itu, yang mereka ributkan adalah bagaimana nasib mereka nanti seandainya rancangan itu menjadi undang-undang. Apakah mereka akan di PHK? Tapi itu ngga’ masalah bagi gue karena apa susahnya sih banting setir? Dan gue juga ngga’ akan tahu apa yang sedang diributkan oleh karyawan dan karyawati gue ini kalo ngga’ dibilangin ama sekretaris gue. Wajarlah, sebagai sekretaris dia ngerasa wajib melaporkan apa-apa yang terjadi ke gue mengenai perusahaan, ke pimpinannya.
Sekretaris gue yang satu itu sangat loyal, udah hampir lima tahun dia bekerja di perusahaan ini, tanpa sedikitpun mengeluh. Apalagi menuntut untuk kenaikan gaji. Dari yang gue lihat dia orangnya sangat low profile, apa adanya, dia benar-benar tipe cewek yang cocok untuk dijadikan istri. Ah, kalo begitu kenapa ngga’ gue tanyain aja ke dia, Ke Tika. Siapa tahu dia nerima gue buat jadi suaminya. Tidak, jangan sekarang. Karena kelihatannya banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Kalo begitu nanti sore gue panggil Tikanya ke ruangan gue. Sekalian gue mikirin sesuatu dulu buat nanti sore dan nanyain kakak gue gimana pendapatnya soal yang satu ini. Lagian sekarang ini sudah waktunya Lunch. Kalo lunch di Singapura keburu ngga’ ya waktunya? Bosen ah, gimana kalo sesekali gue lunch di kantin bawah di tempat di mana Tika biasanya makan. Hitung-hitung membaur bersama para karyawan-karyawan.
Sekarang udah pukul setengah empat sore, udah waktunya gue panggil Tika ke ruangan gue. Baru aja gue telfon, Tikanya udah datang ke hadapan gue dan seperti biasanya dia bertanya kalo-kalo ada yang bisa dia bantu. Tapi, kali ini beda dengan biasanya karena gue langsung mempersilahkan dia duduk di depan meja gue. Gue tahu kalo dia sekarang ini penuh rasa penasaran ada apa sebenarnya ini? Tanpa basa-basi lagi, gue mengutarakan niat gue ke dia. Dan dia pun menerimanya. Oh iya, dia juga bilang. Selama ini alasan dia bekerja di sini selain dia ngerasa cocok dengan pekerjaannya dia juga ingin merhatiin gue dengan cara-cara yang dia bisa dan tampak wajar sebagai seorang sekretaris. Hanya aja gue ngga’ terlalu menyadarinya sampe dia yang memberitahu.
Dua hari telah gue lewati dengan perasaan senang, hanya saja aneh, kenapa selama ini gue ngga’ nyadar ya kalo sebenarnya ada cewek yang memendam perasaan suka ke gue? Apalagi cewek itu sekretaris di salah satu perusahaan gue sendiri. Mungkin gue terlalu banyak ngurusin bisnis sampe-sampe gue terlalu lelah untuk ngurusin siapa yang akan jadi pendamping hidup gue.
Wow, yang jelas gue senang banget. Permintaan gue diterima Tika dengan senang hati. Rencananya dua minggu lagi kami berdua akan menikah, di Paris. Karena baik bonyoknya dia ataupun gue ngga’ ada masalah sama sekali. They’ve deal. Terutama bonyok gue, karena kedua-duanya udah kepengen banget menimang cucu. Ya, setelah sekian lama mereka merintis bisnis dari nol sampe jadi seperti sekarang ini, wajarlah kalo mereka di hari tuanya ingin bersantai menghabiskan waktu dengan cucu-cucu mereka kelak.
Hari ini, seperti yang direncanakan sebelumnya kami berdua, gue dan Tika, pun akhirnya menikah di Paris, di salah satu hotel ternama tentunya. Semua kebahagian rasanya kami miliki. Bahkan, orang-orang terdekat gue dan semua orang-orang yang hadir di sini ikut merasa bahagia. Termasuk Kevin, kakak gue. Hari ini rasanya adalah hari yang paling ngebahagiain bagi gue. Hidup gue serasa lengkaplah sudah. Dan akan bertambah semakin lengkap lagi kalo gue dan Tika bisa memberikan bonyok cucu. Ah, ngga’ bisa gue bayangin gimana jadinya jika saat itu tiba. Hari ini, gue ngerasa ngelihat senyuman yang paling indah dari bonyok gue yang ngga’ pernah gue lihat sebelumnya. Bahkan, senyuman hari ini ngga’ seindah ketika gue di wisuda saat menyelesaikan kuliah gue, tidak seindah ketika gue memenangkan tender-tender miliaran rupiah buat perusahaan.
Pagi ini, pagi-pagi sekali, gue udah bangun untuk mandi dan sarapan. Sarapan yang sangat gue nanti-nantiin. Sarapan yang dibuat oleh tangan Tika sendiri, yang selain cekatan dalam bekerja dia juga sangat pintar memasak. Meskipun cekatan dalam bekerja sudah hampir satu bulan lebih ini dia gue berhentiin sebagai sekretaris gue. Masa’ iya gue tega ngelihat istri gue banting tulang nyari duit? Kan ngga’ mungkin. Gue bangun pagi-pagi gini karena pagi ini gue dan Tika rencananya mau pergi ke praktek dokter yang ada di rumah sakit didekat rumah kami, untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Karena semalem Tika kelihatan sangat ngga’ enak badan, ngga’ seperti sebulan sebelumnya. Ngga’ satu haripun seperti sebulan sebelumnya. Dia terlalu banyak muntah. Di antara kekhawatiran yang melanda gue, gue juga sedikit berbahagia. Karena jangan-jangan Tika hamil, iya mungkin Tika Hamil. Karena itulah semalem kami sepakat untuk pergi ke dokter pagi ini. Siapa tahu sebentar lagi gue akan menjadi seorang ayah, ayah dari anak-anak gue sendiri. Wouw.
Di rumah sakit Tika pun diperiksa oleh dokter kenalan gue.
Ngga’ begitu lama setelah dokter memeriksa keadaan Tika, kami berdua pulang ke rumah dengan harap-harap cemas. Karena sampe detik ini belum ada kepastian mengenai apa yang sedang terjadi dengan Tika? Apakah dia benar-benar hamil atau sebenarnya dia mengidap penyakit yang selama ini ngga’ kami berdua ketahui sebelumnya.
Hanya beberapa jam setelah kami berdua pulang ke rumah hand phone gue berdering dan ternyata sebuah panggilan dari dokter yang memeriksa Tika tadi. Karena tadi dokter itu berjanji untuk mengabarin gue secepatnya seandainya hasil pemeriksaan mengenai kondisi keadaan Tika telah diketahui.
Apa yang dikatakan dokter itu ke gue cukup ngebuat gue berteriak sekencang-kencangnya, berteriak sehisterisnya, berteriak dan berteriak. Sampe-sampe rasanya gue jadi gemetaran dan ngga’ bisa berdiri. Soalnya dokter itu memberitahukan ke gue kalo ternyata… kalo ternyata Tika mengidap HIV sejak lama, sebuah virus yang mematikan dan sekarang telah positif menjadi AIDS.
Spontan gue dan Tika kembali ke rumah sakit untuk menanyakan kebenaran berita itu. Apakah memang seperti itu keadaan Tika sekarang?
Di dalam perjalanan gue masih kepikiran akan apa yang baru gue denger dari dokter itu. Gue masih berharap dokter itu salah, karena kalau iya artinya gue ngga’ lama lgi akan kehilangan Tika, kehilangan istri gue dan automaticcly gue pun jangan-jangan juga mengidap HIV. Oh shit, gimana dengan harapan gue selama ini untuk jadi ayah dari anak-anak gue? Gimana dengan impian gue untuk ngeberiin bonyok gue cucu? Haruskah semua ini terjadi ke gue? Tapi kenapa Tika selama ini ngga’ menceritakan semua ini ke gue, menceritakan mengenai penyakitnya? Bukankah seandainya dia memberitahu gue lebih awal gue bisa ngebantu dia? Oh Tika, kenapa elo tega ngebohongin gue selama ini? Kenapa Tika?
Di rumah sakit, setelah bertemu dokter itu ngga’ ada yang bisa gue dan Tika lakuin.
Dokter itu benar, Tika memang benar-benar mengidap AIDS. Gue bener-bener ngga’ nyangka kalo hal seperti ini akan terjadi ke gue, ke kami berdua. Gue masih ‘ngga abis pikir gimana ini bisa terjadi ke gue. Tanpa gue sadari, air mata gue mengalir di pipi gue. Air mata yang hampir ngga’ pernah mengalir selama sepuluh tahun belakangan ini, apalagi harus mengalir di depan orang-orang, di depan dokter dan Tika. Gue masih bingung harus ngapain.
Emosi gue membuat gue memeluk Tika erat-erat, sangat erat. Dengan air mata gue yang masih mengalir dan tetap memeluk Tika, gue berbisik di telinganya. Berbisik cukup dekat dan pelan walaupun gue merasa dokter yang masih berada di dekat kami itu bisa mendengar bisikan gue ke Tika. Dengan pelan gue berbisik, gue berkata, “Tika, aku ngga’ mau kehilangan kamu secepat ini. Aku cinta padamu, sangat mencintaimu”.
Tapi, yang terjadi selanjutnya adalah, Tika tersenyum bahkan ia tertawa. Begitupun dokter itu.
Mengapa dengan keadaan seperti ini mereka masih bisa tertawa? Dengan menatap gue yang masih memeluk Tika, dokter itu berkata “Ini semua permintaan Tika, Bang. Dia yang merencanakan ini semua sejak kemarin. Dia hanya ingin mendengar Abang mengatakan itu kepadanya. Mengatakan bahwa Abang mencintainya. Karena selama ini Abang ngga’ pernah mengatakan kalimat itu kepadanya, bahkan setelah sebulan Abang dan Tika menikah sekalipun. Mengenai penyakit itu, Tika ngga’ mengidap AIDS seperti yang Abang kira. Tika sekarang mengandung anak pertama Abang, selamat ya Bang”.
Iya ya, apa yang dibilang dokter itu benar kalo selama ini gue belum pernah sekalipun mengatakan cinta kepada Tika, bahkan mengatakan cinta itu sendiri. Terima kasih, Tuhan. Gue jadi ayah… .
Apa yang gue rasain sekarang benar-benar mukjizat dari Yang Maha Cinta. Sebuah kebahagiaan yang tiada tandingannya.
Kami berduapun, gue dan Tika, segera bergegas untuk pulang ke rumah, tetapi ke rumah bonyok gue. Karena gue udah ngga’ sabar pengen ngeberitahu kabar bahagia ini ke bonyok. Papi, mami, sebentar lagi kalian akan jadi kakek dan nenek. Begitulah isi kepala gue selama perjalanan menuju rumah.
Tika pun terlihat bahagia, sangat bahagia. Gue benar-benar beruntung bisa punya istri seperti dia. Terima kasih Tuhan.
Di perjalanan, Tika minta berhenti sebentar di depan mini market. Dia bilang ada yang ingin dibeli dan gue pun menuruti permintaannya.
Selama dia di mini market gue sempat berfikir, kira-kira kejutan apa lagi yang akan diberiinnya ke gue? Ngga’ berapa lama dari dalam mini market banyak orang-orang berlarian kesana kemari sambil berteriak-teriak. Gue sempat bingung ada apa sebenarnya. Belum sempat kebigungan gue terjawab gue melihat Tika keluar dari dalam mini market. Astaga, tubuhnya penuh darah. Dan dia jatuh tergeletak begitu aja tepat di depan pintu mini market itu. Seorang satpam mendekati gue dan berkata “Istri Bapak menjadi korban penembakan dari perampokan bersenjata yang baru saja terjadi”.
Tidaaak…
~
Kuasa Cinta [by me]
December 28, 2007, 9:53 am
Filed under:
Books
Di rumah kami, dimana gue dan bokap tinggal selama ini semenjak ditinggal nyokap yang udah pergi duluan pindah ke surga beberapa tahun yang lalu karena kecelakaan sepeda motor, dimana gue dan bokap mempunyai kenangan-kenangan indah sewaktu masih bersama-sama nyokap, tepat satu jam lagi dari sekarang kami akan makan siang bersama.
Tapi tidak seperti biasanya yang hanya ada gue dan bokap. Karena makan siang kali ini gue dan bokap akan ditemani Theola. Bokap pun udah janji ke gue kalo siang ini dia akan pulang kantor lebih awal. Karena seperti janji kami kemarin kalo siang hari ini ketika jam makan siang, gue janji untuk ngenalin cewek yang gue cintai dan mencintai gue ke bokap. Iya, gue udah berjanji ama bokap untuk ngenalin calon menantunya, untuk ngenalin Theola yang udah gue ceritain semenjak satu minggu yang lalu.
Semenjak ditinggal nyokap gue mau ngga’ mau harus belajar masak. Gue ngga’ bisa lagi enak-enakan kayak dulu yang kalo mau pergi atau pulang dari kampus tinggal duduk manis di meja makan. Karena gue nyadar kalo gue udah ngga’ punya nyokap lagi dan karena bokap ngga’ akan mungkin ngajakin gue makan di luar terus-terusan. Bokap bilang kami harus mulai belajar berhemat. Salah satunya dengan ngga’ makan di luar setiap hari. Lagian apa susahnya sih belajar masak. Dan jadilah gue koki di rumah kami yang sederhana ini.
Tapi untuk makan siang kali ini gue sengaja ngga’ masak sendiri melainkan delivery masakan Jepang. Gue sengaja pesan masakan Jepang karena baik bokap ataupun Theola suka banget dengan masakan Jepang meskipun sebenarnya gue sendiri ngga’ terlalu suka.
Makanan yang udah gue pesen akhirnya datang juga tepat lima belas menit sebelum pukul satu menurut jam dinding di rumah kami, itu artinya semua persiapan sudah beres. Tinggal menunggu kedatangan bokap dan Theola. Karena memang makan siang kali ini special untuk mereka berdua. Untuk sang calon menantu dan sang calon mertua.
Sebenarnya acara makan siang ini udah lama gue rencanain tapi baru sekarang bisa diwujudin. Mengingat beberapa minggu ini gue dan Theola lagi sibuk-sibuknya semesteran. Belum lagi bokap yang sedang ada masalah intern di kantor. Bokap ngga’ pernah cerita masalahnya apa dan gue pun ngga’ pernah nanyain. Karena gue pikir kalo bokap kepengen berbagi masalahnya dengan gue dia pasti cerita. Bokap orangnya emang gitu. Gue bisa ngertiin kok. Ntar kalo masalahnya udah kelar pasti juga bisa ketahuan dari raut wajahnya yang masih baby face itu. Buktinya pas semalem gue omongin mengenai rencana ini ke bokap, bokap ngedukung gue kok. Katanya sih ngga’ ada salahnya juga cepat-cepat ngerasaian gimana rasanya jadi kakek. Maklum, kan gue anak satu-satunya. Kalo ngga’ dari gue ya dari siapa lagi bokap bakal dapat cucu?
Dan tepat lima menit sebelum acara makan siang dimulai bokap pun datang. Tadinya sih gue sempat was-was juga. Kan ngga’ enak ama Theola kalo yang diundang duluan datang daripada tuan rumahnya. Sebelum ganti baju dan duduk di meja makan bokap sempet nanyain ke gue sekali lagi siapa nama calon menantunya itu. Untungnya bokap jujur kalo dia lupa. Kan apa jadinya ntar kalo dia sampe salah manggil nama.
“Ayah, namanya Theola, Theola, ingat ya Yah”.
Setelah sedikit ngobrol bareng bokap akhirnya pintu rumah kami pun diketuk juga. Gue yakin banget kalo pasti Theola yang sedang berada di balik pintu itu. Kalo Theola lah yang mengetuk pintu barusan. Gagang pintu pun gue tarik dan dugaan gue bener. Wah, kira-kira apa ya yang sedang dipikirin bokap sekarang?
Gue pikir ngga’ ada salahnya kalo gue dan Theola sedikit berpelukan di depan bokap. Karena gue pikir itu bisa sedikit ngebantu Theola untuk ngilangin nervest nya.
Setelah itu Theola pun gue kenalin ke bokap. Dan seperti yang gue duga sebelumnya, bokap pun menerima uluran salam perkenalan dari Theola dengan ramah. Acara perkenalan itu ngga’ berlangsung lama. Karena makan siang udah menanti kami bertiga di meja makan.
Sungguh makan siang yang menyenangkan. Gue senang bisa ngelihat Theola dan bokap terlihat akrab. Kami bertiga terlihat akrab. Gue cuma berpikir, andaikan saat ini nyokap sedang bersama-sama kami. Tapi gue yakin, nyokap pasti sedang bersama kami. Karena bagi gue nyokap selalu ada dan tinggal di dalam hati gue yang terdalam, sedikit lebih dalam dibandingkan posisi Theola di hati gue.
Setengah jam lamanya kami bertiga berada di meja makan.
Di meja makan kami bercerita banyak hal. Theola dengan setelan kameja hitam dan celana jeansnya kelihatan santai nyeritain ke bokap gimana gue dan dia bisa kenalan, pokoknya mulai dari perkenalan gue dan Theola empat bulan yang lalu di kampus kami sampe gimana caranya gue dan Theola bisa jadian seperti sekarang ini.
Kalo dipikir-pikir usia hubungan gue dan Theola bagi kebanyakan orang emang masih belia, baru jalan 3 bulan. Tapi bagi gue 3 bulan itu udah cukup buat ngelanjutin ke hubungan yang lebih serius. Apalagi Theola lah cinta pertama gue dan dialah pacar pertama gue. Begitupun Theola, dia juga berpendapat kalo kami ngga’ perlu nunggu lama-lama buat menuju ke hubungan yang lebih serius. Ngga’ perlu nunggu lama-lama buat kami untuk segera menikah. Karena dia pun begitu mencintai gue.
Lihatlah Theola, dia benar-benar tahu gimana caranya ngebuat gue jatuh cinta. Ngga’ perlu nunggu dia bilang sayang ama gue, ngga’ perlu nunggu dia gecup bibir gue, ngga’ perlu nunggu dia memeluk tubuh gue untuk tahu gimana rasanya dicintai dan mencintai. Hanya dengan seyuman di bibirnya, itu udah cukup buat gue ngelakuin apa aja untuk bisa memiliki dan menjaga cintanya buat selama-lamanya.
Gue benar-benar ngga’ tahu gimana jadinya seandainya gue kehilangan dia. Dia memang dari keluarga broken home yang hanya kenal nyokapnya dan ngga’ pernah tahu seperti apa rupa bokapnya, yang ngga’ pernah ngerasain gimana rasanya kasih sayang dari seorang bokap, yang ditinggal mati nyokapnya semenjak masih duduk di bangku smp, yang harus berjuang dengan tangannya sendiri untuk tetap hidup di dunia yang kejam ini dan yang seluruh hidupnya hampir dilalui dengan tempaan kasih sayang alam, yang benar-benar tahu gimana caranya melalui masalah.
Tapi bagi gue dia adalah bidadari surga yang dikirimkam mereka untuk gue, dia adalah sepuluh tingkatnya di atas anugerah terindah dan terbaik, dia adalah segala-galanya ungkapan cinta.
Seminggu udah berlalu semenjak makan siang bersama hari itu dan sekarang ketika fajar menyebar emas-emasnya hingga menjelajahi celah-celah ilalang yang masih diselimuti embun paginya, inilah pertama kalinya gue ngelihat bokap duduk termenung di meja makan kami dengan secangkir kopi di hadapannya.
Bukan lamunannya yang mengusik kemudian mengukir beberapa pertanyaan secepat kilat di rongga-rongga tempat gue berimajinasi selama ini, bukan pula karena fajar yang masih terkantuk menggantung tanggung di sebelah timur itu yang menjejali kanvas dengan lukisan-lukisan abstrak di benak gue, tetapi secangkir kopi itu.
Karena semenjak nyokap pergi pindah ke surga dan meninggalkan kami beberapa tahun yang lalu bokap ngga’ pernah lagi membeli kopi apalagi meneguknya seperti pagi ini.
Dengan ngga’ bermaksud untuk membuyarkan lamunan bokap gue pun ngedeketin bokap dan duduk bersamanya. Dengan sedikit basa-basi antara seorang anak dan ayahnya kemudian bokap menceritakan ke gue apa sebenarnya yang sedang merasuki pikirannya sehingga kopi yang begitu pekat itu diteguknya sebegitu pagi.
Apa yang mengganggu pikiran bokap sempat menerjang gue seperti ombak-ombak yang menampar karang dengan garangnya. Karena bokap ngeminta gue untuk berkenalan dengan anak perempuan teman sekantornya dan kalo bisa menikahinya dengan segera mungkin.
Apa maksud semua ini sebenarnya? Bukankah bokap juga menyukai Theola seperti layaknya seorang ayah dan anak? Lantas mengapa bokap menghianati gue dan Theola seperti ini?
“Maaf Ayah, tapi aku ngga’ bisa, aku sangat mencintai Theola.” Yang kemudian menjadi kalimat terakhir gue sebelum akhirnya mandi karena hari ini waktu terakhir bagi gue untuk ngumpulin tugas akhir salah satu mata kuliah.
Siangnya setelah mengumpulkan tugas di kampus, Theola dengan khawatirnya menyerang gue dengan pertanyaan-pertanyaan cemas seorang cewek. Menyulap kegundahan gue untuk segera berbagi dengannya. Ya wajar saja, karena ngga’ perlu seorang Theola untuk menerka seperti apa perasaan gue setelah mendengar permintaan bokap tadi pagi.
Setelah mendengar cerita gue Theola kemudian menitikkan air mata perlahan-lahan di pipinya yang ranum itu. Ia hanya berkata bahwa hidup ini ngga’ pernah adil baginya. Hanya itu. Dan bagi gue, setelah tadi pagi, mungkin hidup ini seperti nasi yang gue makan setiap hari, yang setelah gue kunyah dan telan kemudian dicerna untuk kemudian dikeluarkan lagi menjadi taik.
Memang semalem gue sempet ngedenger bokap menelfon temannya dari dalam kamarnya dan bukan dari telfon rumah kami seperti biasanya. Hanya aja gue ngga’ tahu apa yang mereka bicarakan dan siapa yang diajaknya bicara dengan suara yang sepelan angin sepoi-sepoi. Gue jadi yakin sekarang, kalo sebenarnya bokap pasti mendiskusikan rencananya dengan teman sekantornya seperti yang dia bicarakan pada paginya.
Dua tahun, semenjak pagi di mana bokap meneguk secangkir kopi pertamanya itu setelah sempat berhenti karena kematian nyokap, telah kami berempat jalani di rumah kami yang sederhana ini, walaupun setahun sebelumnya kami tetap bertiga, gue, Theola dan bokap. Karena waktu itu gue dan Theola belum dikarunia Gatha, anak pertama kami ini, dan bokap belum menjadi kakek karena belum punya cucu seperti setahun barusan ini.
Gue masih ingat ketika bokap meluntur, seperti lukisan di kanvas yang terkena guyuran hujan yang paling deras atas permintaan sepihaknya untuk berkenalan dan menikahkan gue dengan anak perempuan teman sekantornya seperti yang dia bilang, saat gue menghujaminya dengan pembuktian-pembuktian gila-gilaan kepadanya untuk menunjukkan bahwa gue bener-bener membutuhkan Theola dan cintanya dalam hidup gue.
Mulai dari gue menunjukan ke bokap tepat di depan mata kepalanya waktu gue menyayat-nyayat lengan kiri gue dengan pisau dapur yang akhirnya harus dijahit untuk menghentikan darahnya yang menyembur kencang seperti deretan kuda-kuda pacu di arena lomba saat adu cepat, sampe gue yang ngga’ makan-makan selama beberapa hari setelah atraksi berdarah gue yang mengakibatkan gue kekurangan dan kehilangan banyak darah. Dan diiringi nyanyian-nyanyian histeris selama beberapa hari di rumah kami itu dari lara seorang pencinta yang menyebabkan kebisuan melanda pita suara Theola selama beberapa hari berikutnya yang membuat bokap jadi ikut terhanyut dalam kesungguhan gue untuk memiliki dan dimiliki Theola.
Yang akhirnya ngebuat bokap menikahkan kami dengan acara pernikahan yang paling akbar baginya walaupun gue tahu itu adalah pernikahan paling sederhana yang gue tahu dibandingkan acara-acara resepsi pernikahan yang pernah gue datangi sebelum-sebelumnya.
Dua tahun hidup bersama Theola sangatlah menyenangkan, seperti hari-hari yang penuh warna dan kegembiraan yang tiada hentinya di hati yang sempat merintih tertentang ini.
Theola pun tahu bahwa tidak sia-sia rupanya apa yang gue lakukan, kami lakukan, untuk mempersatukan cinta yang ngga’ dapat digenggam bahkan oleh dunia ini sekalipun.
Tanpa perlu harus mendengar langsung dari mulutnya gue tahu kalo dia pun merasakan hal yang sama seperti yang gue rasain.
Lihat aja tatapan matanya yang seperti samurai tertajam di dunia yang diasah dengan cinta saat kami saling menatap. Atau sentuhan-sentuhan lembut jemarinya disaat mulai merayap perlahan-lahan dari pinggul menaiki hingga ke leher, dan dekapannya yang seperti perpaduan api unggun dan es krim yang hangat tetapi sejuk dan manis yang membawa gue terhanyut begitu dalam dengan cintanya.
Bahkan di suatu hari dalam dua tahun itu, Theola pernah meletakkan setangkai mawar putih dan selembar kertas berisikan sebuah puisi yang diletakkanya di ranjang tempat kami tidur.
Bagi gue yang perlu Theola ,bokap dan bahkan siapapun tahu hanyalah kekuatan cinta gue yang ada dan ada karena Theola.
Dan mereka ngga’ perlu tahu kalo sebenarnya gue tahu apa yang mereka tahu dan mengira gue ngga’ tahu selama ini. Bahwa sebenarnya gue tahu apa alasan bokap menjodohkan gue dengan anak perempuan teman sekantornya itu. Bahwa sebenarnya gue tahu, walaupun beberapa hari sedikit terlambat sebelum hari pernikahan gue dan Theola, kalo sebenarnya malam itu bokap ternyata bukanlah menelfon teman sekantornya untuk membicarakan rencanannya untuk ngenalin gue ke anak perempuan temannya itu dan menikahkan gue sesegera mungkin melainkan menelfon dan berbicara dengan Theola.
Berbicara kepada Theola dan memintanya untuk menghentikan hubungannya dengan gue. Dengan alasan yang sangat logika karena bokap ngga’ mau kalo anaknya sampe menikah dengan orang yang pernah dibayarnya beberapa tahun yang lalu untuk ‘tidur’ bersamanya. Kalo bokap ngga’ mau anaknya menikah dengan orang yang pernah menjadi kupu-kupu malam.
Meskipun bagi gue Theola bukanlah kupu-kupu malam, ngga’ sama sekali. Sungguh… coba saja baca puisinya yang diletakan di ranjang tempat kami tidur ini :
kuasa cinta
Yang pernah telanjang memeluk panas
Yang pernah berguling dinginnya kelam
Kini telah dewasa ranum berjuntai
Ialah anggur yang dikasihi alam,
Yang pernah menapaki terjalnya karam
Yang pernah berbasuh hitamnya dunia
Kini mengalir tenang dengan wibawa
Ialah hujan yang disayangi alam,
Yang pernah terpuruk jatuh menghampa
Yang pernah menyangkal kehendak Sang Langit
Kini mengendarai waktu dengan suka cita
Ialah aku yang kau selamatkan dengan cinta.
~